logo


Ini Dia Rekomendasi Greenpeace Soal PLTU Batu Bara

Salah satunya adalah Pemerintah diminta untuk menetapkan emisi dari PLTU yang akan beroperasi

12 Agustus 2015 16:47 WIB

Warga membentuk tulisan
Warga membentuk tulisan "Tolak PLTU" dengan konfigurasi perahu. (dok. Greenpeace)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Greenpeace Indonesia memiliki beberapa rekomendasi kepada Pemerintah terkait Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

Ahli Batu Bara dan Polusi Udara Greenpeace Internasional, Lauri Myllyvirta mengungkapkan, bahwa Pemerintah harus menetapkan standar emisi untuk PLTU yang sudah beroperasi dan yang akan datang, sehingga dapat melindungi kesehatan masyarakat dan sejalan dengan kunci pertumbuhan ekonomi.

"Pemerintah wajib melakukan pemantauan emisi. Agar hasil pantauannya dapat dimonitori oleh publik," ungkap Lauri kepada wartawan di Hotel Morrissey, Jakarta, Rabu (12/8).


2019, Produsen Solar Panel JSKY Genjot Penjualan di Pasar Domestik dan Global

Peneliti Senior Greenpeace Internasional ini mengatakan, bahwa Pemerintah juga harus mengkaji dampak kesehatan untuk semua proyek baru yang akan dilaksanakan. "Undang-Undangnya sudah ada, tapi tidak pernah dilakukan," lanjutnya.

Selain itu, Pemerintah juga diminta untuk menimbang ulang beberapa investasi PLTU berbahan bakar batu bara. Pertimbangan tersebut didasarkan karena dampak kesehatan.

Lauri juga mengharapkan, agar Pemerintah segera mengembangkan pembangkit listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) ketimbang masih mempertahankan PLTU berbahan bakar batu bara yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan.

"Di Amerika ada 187 PLTU berbahan bakar batu bara ditutup. 23% (78.000 Megawatt/MW) PLTU batu bara telah ditutup dan mereka menambahkan 46.000 MW energi terbarukan dari solar, angin, dan panas bumi," pungkas Lauri.

Sekadar informasi, Greenpeace Indonesia melaporkan, bahwa emisi yang dihasilkan PLTU berbahan bakar batu bara sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Polusi yang dihasilkan dari cerobong PLTU berbahan bakar batu bara menyebarkan partikel beracun dan sangat mematikan.

Indonesia Perlu Ambisius Soal Energi Terbarukan

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin