logo


Kasus Dwelling Time Sudah Sistematis

Selama ini ada oknum di pelabuhan yang memaksa perusahaan untuk mengeluarkan uang

31 Juli 2015 00:00 WIB

Istimewa
Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Apindo Haryadi B Soekamdani mengatakan kasus dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok yang turut menyeret pejabat struktural Kementerian Perdagangan merupakan keadaan yang sudah dikondisikan. Ia mengatakan selama ini ada oknum di pelabuhan yang memaksa perusahaan untuk mengeluarkan uang lebih agar proses perizinan dipercepat.

"Kondisi selama ini memang keadaan yang sudah dikondisikan. Jadi mau tidak mau, perusahaan mengikuti apa yang disetting oleh oknum itu. Karena kalau tidak, prosesnya akan panjang untuk mengeluarkan barang-barang dari sana dan ini yang kita keluhkan dan sudah lama sekali (terjadi)," tuturnya di Jakarta pada Kamis (30/7).

Ia mengatakan, langkah Kepolisian untuk memulai penyelidikan dari kantor Kementerian Perdagangan merupakan langkah yang baik. Karena semua muara dan proses perzininan ada di Kementerian Perdagangan. Bukan tidak mungkin, kalau semua proses dilakukan dengan sangat baik maka target dwelling time 4,2 hari oleh Presiden Joko Widodo akan tercapai.

"Betul-betul Presiden Jokowi benar-benar melakukan reformasi secara menyeluruh dalam pengurusan arus barang di pelabuhan. Target untuk mencapai dweliig time 4,2 hari sangat mungkin dilakukan. Ini kan seluruh importir, otomatis semua akan menghadapi masalah. Tapi muara paling besar itu di Kemendag tapi Polda sudah tepat untuk memulai dari sana karena seluruh proses ada di Kemendag," lanjutnya.

Menurutnya setiap pengusaha harus mengeluarkan pengeluaran ekstra tergantung dengan komoditi barang yang mereka punya. Hal ini yang mendorong membengkaknya biaya logistik di Indonesia mencapai 26% dari harga barang. Imbas dari semua itu adalah melonjaknya harga-harga karena biaya logistik yang tidak kompetitif.

"Oh iya jelas, pengusaha harus mengeluarkan uang ekstra karena kondisi dunia usaha bergerak cepat. Itu yang membuat biaya logistik kita sangat tinggi, itulah menurut penelitian biaya logistik kita kan tidak kompetitif," lanjutnya.

Tak Ingin Ada Korupsi di Pertamina, Ahok Beri Peringatan Keras: Hati-hati, Anda Nikmati Kami Lacak!

Halaman: 
Penulis : Andi Dwijayanto, Vicky Anggriawan