logo


Kekeringan di NTT, Anak-Anak Berjuang Dapatkan Air Bersih

Anak-anak di desa Humusu Oekolo hanya bisa merayakannya dengan cara berjuang mendapatkan air

28 Juli 2015 00:00 WIB

Anak-anak di desa Humusu Oekolo. (dok. Jitunews)
Anak-anak di desa Humusu Oekolo. (dok. Jitunews)

TTU, JITUNEWS.COM - Akibat kemarau berkepanjangan, kekeringan melanda hampir seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat terpaksa harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air bersih.

Kondisi ini juga terjadi di kabupaten Timor Tengah Utara provinsi NTT. Parahnya lagi, di desa Humusu Oekolo kecamatan Insana Utara, hal itu dilakukan oleh anak-anak usia sekolahan. Sangat disayangkan memang, di tengah semaraknya perayaan Hari Anak Nasional, anak-anak di desa Humusu Oekolo hanya bisa merayakannya dengan cara berjuang mendapatkan air bersih.

Ditemui di lokasi tersebut, 3 anak kecil berusia antara 5-11 tahun tengah menarik gerobak air seberat 75-100 liter untuk sekadar mendapatkan air bersih.

“Kami baru pulang timba air di kali”, ujar mereka polos ketika disapa Jitunews senin sore (27/07).

Ernezto Tikneon, aktivis mahasiswa asal desa tersebut saat dihubungi via telephone selasa (28/07) mengaku sangat sedih melihat kondisi tersebut. Ia mengisahkan bahwa bila sedang dilanda musim kemarau anak-anak desa Humusu Oekolo sering menimba air di kali Kaubele yang jaraknya sekitar 1 km lebih dari pemukiman penduduk.

“Memang pekerjaan menimba air merupakan rutinitas harian anak-anak di sini dan beberapa desa di kecamatan Insana Utara. Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah wahana permainan yang ideal. Tetapi bagi saya, ini merupakan pemandangan yang sangat menyakitkan, apalagi di tengah semaraknya kita menggelar pagelaran Hari Anak Nasional”, tandasnya. 

Di tempat terpisah, Robby Saunoah, Ketua Forum Diskusi Lopo Biinmafo mengatakan, bahwa tak seharusnya anak-anak seusia mereka bekerja keras seperti itu.

“Apakah anak-anak yang harus bertanggung jawab menyediakan air bersih, ataukah anak justeru yang berhak atas air bersih yang disediakan orang dewasa?. Ini satu pertanyaan reflektif untuk kita”, imbuhnya.

Untuk diketahui, perayaan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli merupakan event yang bertujuan untuk menghormati hak-hak anak. Adapun di TTU, perayaan Hari Anak Nasional baru bisa dilaksanakan dalam pekan ini akibat libur lebaran kemarin. Perayaan ini pun diselenggarakan di tengah kemarau panjang dan kekeringan yang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia.

(Yosef Serano Korbaffo)

Produktivitas Padi di Sawahlunto Menurun 20 Persen

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan