logo


Ini Beda Era Jokowi dan SBY Soal Kebijakan Ekonominya

Pada masa SBY Indonesia hanya harus melakukan restrukturisasi ekonomi

28 Juli 2015 00:00 WIB

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy (Ist)
Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tantangan ekonomi era Presiden Joko Widodo dirasa jauh lebih berat bila dibandingkan era SBY. Era Jokowi harus menghadapi tantangan global yang tekanannya jauh lebih berat, bahkan banyak pengamat yang menyamakan keadaan sekarang dengan krisis yang terjadi pada tahun 1998.

Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengatakan, bahwa pada masa SBY Indonesia hanya harus melakukan restrukturisasi ekonomi sesuai dengan rekomendasi Bank Dunia. Sedangkan pada masa Presiden Joko Widodo, Indonesia harus menghadapi berbagai tantangan salah satunya perang ekonomi antara Tiongkok dengan Amerika dan Amerika dengan Rusia.

"Tantangannya tahun 2005 (era SBY) tuntutannya cuma Indonesia harus restrukturisasi ekonomi seperti yang diinginkan oleh Bank Dunia, berbeda dengan sekarang yang ada (pertarungan)  Amerika yang bertahan habis-habisnan dari serangan Tiongkok dan Rusia," tuturnya di Jakarta pada Selasa (28/7).

Ia mengatakan, kondisi yang terjadi sekarang ini memang lebih berat bila dibandingkan periode yang lalu, namun justru pemerintah cenderung abai dengan kritik yang datang. Apalagi ditengah banjirnya kritik tersebut pemerintah tidak melakukan perbaikan dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Jokowi tantangannya lebih berat tapi tim ekonominya tidak punya kapasitas untuk menghadapi itu. Indonesia walaupun negara demokrasi nomer tiga (dunia) tapi masih kampungan karena tidak bisa mendegar kritik yang berbeda. Itu kampungan, padahal kritik saya punya dasar data dan punya solusi," lanjutnya.

Menurutnya pemerintahan saat ini bisa menyebabkan kondisi ekonomi lebih buruk karena tidak tanggapnya atas kritikan yang hadir. Oleh karena itu Presiden Joko Widodo, Ia rasa perlu untuk melakukan reshuffle kabinet khususnya di lini ekonomi yang saat ini dipandang sangat lemah dan mengkhawatirkan.

"Saya sudah sampaikan kritik mengenai keadaan ini, tapi mereka budeg. Soeharto aja saya giniin (kritik) apalagi mereka? Ini kan emang pemerintah tidak mau denger kritik," lanjutnya.

Pertumbuhan Ekonomi 5,0-5,5%, DPR: Kombinasi Gas dan Rem yang Tepat

Halaman: 
Penulis : Andi Dwijayanto, Vicky Anggriawan