logo


Langkah Seperti Ini Berpotensi Gagalkan Program Pemerintah, Apa Tuh?

Penilaian tersebut datang dari Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Andreas Santoso

23 Juli 2015 00:00 WIB

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Andreas Santoso. (Ist)
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Andreas Santoso. (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Terkait dengan pemberian benih gratis ke pihak swasta, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Andreas Santoso menyatakan, langkah tersebut jelas melanggar nawacita presiden, dan juga turut serta menggagalkan program pengembangan 1.000 desa mandiri benih. Parahnya lagi, langkah tersebut juga bertentangan dengan hasil Mahkamah Konstitusi (MK).

"Secara prinsip, pemberian benih cuma-cuma itu seharusnya tidak ke swasta. Sebab, untuk menghasilkan varietas unggul dibutuhkan penelitian panjang dan menggunakan uang negara yang didapatkan dari pajak rakyat. Kenapa tiba-tiba hasil uang rakyat ini diberikan secara gratis ke swasta, diperbanyak, dan dijual lagi ke petani, ini mencederai petani kecil," ungkap Andreas tegas, di Jakarta. 

Bukan tanpa alasan, pemberian benih gratis kepada swasta dinilai menciderai petani karena saat ini, sudah banyak jaringan tani yang memiliki kapasitas menangkarkan benih. Pada dasarnya, menangkarkan benih merupakan keahlian dasar dan sangat mudah dilakukan oleh petani. Dan dari adanya potensi tersebut, pemerintah pun seharusnya mendukung secara penuh. Apalagi, balai penangkaran benih litbang Kementan sudah ada di kabupaten dan kecamatan dengan kelompok petani sebagai penangkarnya.


Pengamat: Ini 3 Poin Penting Upaya Peningkatan Sektor Pangan dan Pertanian

"Keahlian petani memuliakan benih ini memang dikebiri dengan kewajiban mendaftarkan varietas dan mendapatkan izin edar tanaman. Saat itu, para petani yang kreatif membuat benih-benih unggul banyak yang dipenjara lantaran tak sesui prosedur. Pemerintah, berkeras para petani kecil ini harus melewati proses pendaftaran galur baru untuk dilepas Kementan baru diajukan izin edar," jelasnya.

Sebagai informasi, MK berpendapat bahwa petani kecil telah mencari dan mengumpulkan plasma nutfah dalam kegiatan pertaniannya sejak lama. Bahkan, dapat dikatakan menjadi pelestari karena dengan pola pemilihan tanaman sebetulnya petani telah memilih varietas tertentu yang dianggap menguntungkan. "Nah, ini karya yang bagus, kok malah diserahkan ke swasta, ini kan aneh. Pembelaan pemerintah ini ke siapa? Perusahaan besar?" sindir Andreas.

 

 

 

 

 

 

Pesan Presiden Jokowi ke IPB: Ciptakan Paradigma Pertanian Baru

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro