logo


Aneh, Pabrik Belum Ada, Garam Impornya Sudah Ready

Pabrik garam di Nusa Tenggara Timur pembangunannya belum terwujud

18 Juli 2015 00:00 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Tak hanya pada daging sapi, Indonesia juga langganan sebagai pengimpor garam, khususnya untuk sektor industri. Bahkan, pemerintah Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan Cheetam Salt Ltd, yang merupakan perusahaan garam asal Australia. Namun sayangnya, pembangunan pabrik yang akan mendapat suplai garam impor tersebut mandek, alias belum terealisasi.

"Sejak 2010 hingga saat ini, rencana pembangunan pabrik garam di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum juga dimulai. Investasi pabrik garam di NTT itu belum bisa berjalan, karena Bupati belum menyediakan lahannya," ujar Menteri Perindustrian Saleh Husin, dikutip detikfinance, Sabtu (18/7).

Oleh karena itu Menteri Saleh meminta agar kepala daerah yang bersangkutan mempercepat proses penyelesaian lahan. Lanjutnya, kalau lahannya selesai, maka industri garam di NTT akan dapat terealisasi. "Kunci dari berjalannya investasi pabrik garam di NTT adalah penyediaan lahan oleh kepala daerah," tambahnya.


DPRD Gelar RDP Sikapi Polemik Impor Garam, Hasilnya Ini

Diberitakan sebelumnya, dari lahan seluas 1.000 hektar yang diperlukan, baru sekira 700 hektar lebih yang tersedia.

Sebagai informasi, Cheetam Salt Ltd awalnya berkomitmen menggandeng pemda NTT untuk menggarap lahan garam di Kabupaten Nagekeo NTT seluas 2.100 hektar. Proyek ini sudah dirancang sejak Juni 2010, namun kini belum terealisasi, dan sempat membuat Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) terdahulu frustasi

Bila kerjasama ini sudah direalisasikan, maka akan ada tambahan produksi garam nasional sebesar 250.000 ton per tahun. Diharapkan akan terserap 2.000 tenaga kerja dari realisasi kerja sama ini.

 

Bhima: Bisa Dobel Kerugian Indonesia!

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro