logo


Direktur RS Sito Husada Atambua Membenarkan Ada Balita Penderita Gizi Buruk

Memang terdapat dua penderita gizi buruk asal Kabupaten Belu yang dirawat di RS Sito Husada

17 Juli 2015 00:00 WIB

Balita penderita gizi buruk (Ist)
Balita penderita gizi buruk (Ist)

ATAMBUA, JITUNEWS.COM - Direktur sekaligus pemilik Rumah Sakit swasta (RS) Sito Husada Atambua, dokter Edi Usboko, membenarkan adanya penderita gizi buruk asal Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka yang hingga kini masih dirawat secara intensif di RS Sito Husada.

“Iya, ada penderita gizi buruk yang dirawat di RS Sito Husada. Saya sendiri yang periksa dan tangani pasien itu,” kata dokter Edi Usboko, kepada jitunews lewat telepon selularnya, Jumat (17/7) pagi, pukul 09.00 Wita.

Diakuinya, dua minggu sebelumnya, memang terdapat dua penderita gizi buruk asal Kabupaten Belu yang dirawat di RS Sito Husada Atambua. Namun karena pasien gizi buruk itu mengalami kesembuhan, pihaknya telah memulangkan mereka ke pihak keluarga.

“Dua pasien penderita gizi buruk asal Kabupaten Belu itu sudah saya antar pulang ke rumahnya, karena sudah sembuh. Saya bersama staff dan sopir yang antar dia pulang. Dia ditemani mamanya. Usianya 1 tahun. Dan saya selaku pemilik dan pimpinan RS swasta Sito Husada, selalu ingatkan staf saya untuk selalu kunjungi mereka berdua, termasuk membawa obat untuk dikasih ke mereka. Saya bantu mereka ala kadarnya,” katanya merendah di balik teleponnya.

Dirinya juga membenarkan bahwa Margolino Yunus Seran (1), adalah pasien penderita gizi buruk asal desa Tunmat, Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka yang juga masih dirawat secara intensif di RS Sito Husada untuk memperoleh kesembuhan. Sebab, menurutnya, Margolino Yunus Seran merupakan salah satu pasien penderita gizi buruk yang penyebab utamanya adalah terjadinya penyempitan usus pada saluran pencernaan. Sehingga membikin Margolino Yunus Seran mudah terserang gizi buruk.

“Itu karena usus dan saluran pencernaannya mengalami gangguan berat, sehingga dia (Margolino) mudah dan gampang sekali terserang gizi buruk. Perutnya makin membesar. Kaki serta tangannya pun makin mengecil. Kepalanya juga makin membesar. Kami masih melakukan perawatan secara rutin terhadapnya. Kalau dalam beberapa waktu ini, dia tidak mengalami kesembuhan dan perubahan, maka kami akan membantu rujuk ke Surabaya untuk ditangani lebih lanjut,” ucapnya menjelaskan.

Ketika ditanya, mengapa Dinas Kesehatan Belu membantah bahwa tidak adanya penderita gizi buruk di Kabupaten Belu? Dengan tenang, dari balik telepon dokter Edi Usboko mengatakan, “Dinas kesehatan Belu salah mendengar informasi yang kami sampaikan. Mereka (dinas kesehatan) tidak tahu apa yang kami sampaikan. Sebagai pemilik dan direktur RS Sito Husada Atambua, untuk apa saya tutupi kalau ada penderita gizi buruk di Belu dan Malaka?

Edi menimpali, pihak RS akan memberikan data yang lengkap dan transparan bahwa ada penderita gizi buruk di Belu dan Malaka. Menurutnya, Dinkes tidak perlu menutup-nutupi dengan musibah yang melanda.

(Felixianus Ali)

Gubernur NTT Sebut Pertumbuhan Ekonomi NTT Terus Meningkat

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan