logo


Ini Penyebab Ekonomi Indonesia Melambat Menurut Bank Dunia

Pertumbuhan global yang masih melambat karena Amerika Serikat memulihkan postur ekonominya

8 Juli 2015 00:00 WIB

Ilustrasi perekonomian Indonesia. (Ist)
Ilustrasi perekonomian Indonesia. (Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ekonom Utama Bank Dunnia untuk Indonesia, Ndiame Diop mengatakan bahwa ada tiga faktor global yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya.

Faktor pertama menurutnya adalah, pertumbuhan global yang masih melambat karena Amerika Serikat memulihkan postur ekonominya setiap tahun selama 3 tahun terakhir. Ia memprediksi peningkatan kembali terjadi, namun ternyata tidak signifikan seperti yang diprediksi sebelumnya.

"Sebenarnya pertumbuhan secara global itu sudah ada 2,5% pada tahun 2016-2017 kita perkirakan pertumbuhan akan signifikan setelah melewati 3%. Ini biasanya karena kita berada di lingukungan yang tidak kondusif dan mudah-mudahan tahun depan lebih baik," tuturnya di Jakarta pada Rabu (8/7).

Faktor kedua, negara-negara berkembang yang besar sekarang mengalami petumbuhan dibawah rata-rata dalam sepuluh terkahir. Negara dengan pendapatan tinggi saat ini mendapatkan pertumbuhan tinggi dari sebelumnya tetapi negara berkembang justru kesenjangannya dalam 10 tahun lebih tinggi seperti yang terjadi di Turki, Brazil, Afrika Selatan, dan Tiongkok.

"Sekarang saya fokus ke Tiongkok. Karena Tiongkok sangat penting untuk Indonesia, mereka mengalami pertumbuhan 3% lebih rendah dalam sepuluh tahun terakhir. Perlu kita ingat, komposisi pertumbuhan Tiongkok juga bergerak dari komoditas dan ini memberikan dampak kepada dunia dan Indonesia khusunnya," lanjutnya.

Faktor ketiga, ekportir komoditas megalami kejutan dari pelemahan Tiongkok, disebabkan dari pengaruh ekspor sektor komoditas. Dampak tersebut tidak langsung, yakni dengan pasar komoditas turun maka harga-harga komoditas meningkat 20%. Tiongkok juga terus menyesuaikan kebijakan makro ekonomi mereka terutama untuk mengatasi permasalahan defisit saat ini.

"Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Australia menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam mengatasi perlambatan pertumbuhan ini dan dirasakan eksportir skala besar ini juga di sektor fiskal. Pendapatan komoditas merupakan bagian yang penting untuk mereka juga ekspor ke Tiongkok dan harga komoditas Tiongkok mengalami pertumbuhan yang sangat cepat," lanjutnya.

Pemerintah Pajaki Pulsa dan Token Listrik, Rizal Ramli: Kreatif Dikit Kek

Halaman: 
Penulis : Andi Dwijayanto, Vicky Anggriawan