•  

logo


Obesitas Jadi Masalah Serius bagi Remaja, Apa Penyebab dan Solusinya?

Kebanyakan remaja menilai obesitas sebagai masalah dalam hidupnya, karena kelebihan berat badan memiliki dampak buruk

12 Januari 2024 21:09 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi Freepik

Sekarang ini kelebihan berat badan sedang menjadi masalah yang banyak diperbincangkan, terutama pada kalangan remaja. Kebanyakan remaja menilai obesitas sebagai masalah dalam hidupnya, karena kelebihan berat badan menyebabkan postur tubuh menjadi tidak optimal. Sehingga banyak sebagian remaja yang merasa minder dengan dengan bentuk tubuhnya. Dilihat dari sudut pandang lain, obesitas menjadi suatu masalah kesehatan.

Obesitas itu sendiri adalah suatu kondisi dimana berat badan melebih 30% dari standar Berat Badan Ideal (BBI) atau dimana berat badan melebih 120% dari berat badan normal untuk usia yang bersangkutan. Obesitas terjadi ketika tubuh mengonsumsi lebih banyak energi dari pada yang dibutuhkan, maka dari kelebihan energi tersebut disimpan sebagai lemak.

Menurut data WHO, Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas dikalangan anak umur 5 hingga 19 tahun adalah lebih dari 18%. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada tahun 2018, pada tahun 2013, prevalensi kelebihan berat badan sebesar 28% miningkat menjadi 52,8% pada tahun 2018. Prevalensi obesitas pada remaja adalah 1,6% pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 4% pada tahun 2018. Sedangkan pada tahun 2018, prevalensi pada remaja yang memiliki kelebihan berat badan di Jawa Tengah sebesar 7,9% dan prevalensi obesitas sebesar 3,7%


Penting, 6 Hal Ini Sebaiknya Anda Lakukan Sebelum Tidur

Obesitas dapat terjadi karena asupan energi yang melebihi dari penggunaannya. Dalam zat gizi makro yaitu karbohidrat ialah salah satu sumber energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Jika mengonsumsinya secara berlebihan maka akan menyebabkan obesitas. Penyebab dari obesitas itu sendiri antara lain kurangnya pengetahuan dan kurang berolahraga sehingga tubuh tidak gerak. Tingkat pengetahuan gizi sangat mempengaruhi pada perilaku dan sikap dalam memilihan konsumsi makanan yang akhirnya dapat mempengaruhi keadaan satatus gizi seseorang. Seringnya mengonsumsi junk food juga menyebabkan obesitas pada seseorang. Hal itu dikarenakan junk food mempunyai kandungan berupa lemak dan gula sangat tinggi tetapi isi pada serat rendah, maka tidak mencukupi kebutuhan gizi pada tubuh.

Remaja dan anak-anak yang memiliki pola makan buruk dapat dilihat dari asupan gula, garam, serta lemak yang tinggi pada minuman dan makanan yang dikonsumsi. Kurangnya mengonsumsi buah serta sayur dapat menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan gizi pada tubuh. Nafsu makan pada malam hari yang berlebihan pada remaja juga bisa menjadi faktor penyebab obesitas, obesitas terjadi ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak kalori dibandingkan kalori yang dibakar di malam hari, karena tubuh seseorang membutuhkan lebih sedikit energi di pagi dan sore hari, dam membuat metabolisme tubuh melambat.

Selain itu, aktivitas fisik yang rendah juga menjadi penyebab terjadinya obesitas.dari kemajuan teknologi yang semakjn pesat dan semakin modern dapat memberikan kemudahan terhadap gaya hidup seseorang dan dapat menurunkan angka aktivitas fisik untuk bisa berkegiatan sehari-hari. Remaja saat ini cenderung memiliki aktivitas fisik yang sedikit. Banyak remaja yang hanya beraktivitas di sekolah saja, aktivitas yang disukai remaja biasanya seperti main game di smartphone serta remaja sering berkumpul di daerah kuliner makanan junk food (Prima, Andayani and Abdullah, 2018).

Obesitas memiliki banyak faktor, antara lain teman sebaya juga bisa menjadi penyebab terjadinya obesitas, karena remaja biasanya sering kumpul bersama teman dan suka membeli makanan yang tidak sehat contohnya junk food dan makanan cepat saji. Makanan tersebut mengandung banyak minyak sehingga lemak pada tubuh menjadi bertambah. Remaja sangat menyukai makanan yang lezat tetapi mereka jarang melihat dari segi gizinya, itulah yang menjadi alasan mengapa tingkat obesitas meningkat.

Akibat dari kelebihan berat badan ialah dapat menjadi kurang percaya diri terhadap bentuk tubuh, siklus haid tidak teratur, depresi, gangguan psikologis. Selain itu, kelebihan berat badan juga mempunyai akibat dari penyakit, seperti penyakit diabetes dan jantung. Pengaruh obesitas dapat menimbulkan dampak negatif terutama pada psikologis remaja seperti gangguan harga diri. Perasaan negatif yang timbul dapat mengganggu harga diri dengan merasa tidak berharga, tidak percaya diri, dan putus asa.

Dengan pengetahuan yang tepat, obesitas dapat dicegah. Hal ini termasuk menjaga nutrisi yang baik dan menghindari makanan yang dapat menyebebkan berat badan naik. Selain itu harus diimbangi dengan aktivitas fisik yang seimbang agar energi yang masuk ke dalam tubuh tidak berubah menjadi lemak yang menumpuk dan menjadi obesitas.

Diagnosis obesitas dapat melalui penilaian dari status gizi yang dilakukan menggunakan metode antropometri. Pengukuran antropometri banyak digunakan untuk suatu penelitian karena penggunaannya yang cukup sederhana. Pengukuran antropometri terdiri dari pengukuran tinggi badan, pengukuran berat badan, indeks masa tubuh (IMT), lingkar lengan atas (LILA), lingkar perut serta lingkar pinggang. Untuk menentukan seseorang mengalami obesitas atau tidak bisa dilakukan pengukuran dengan mengukur lingkar pinggang dan panggul.

Cara yang paling umum digunakan untuk memperkirakan seseorang terjadi obesitas ialah mengunakan indikator obesitas IMT, pengukuran ini banyak digunakan karena beberapa kengunggulan yang dimiliki. Penggunaannya yang mudah bisa untuk menggambarkan kelebihan berat badan. Pada pengukurannya, dapat dihitung dengan berat badan dibagi dengan tinggi badan kuadrat, kemudian hasilnya dapat dilihat pada tabel interpretasi berdasarkan Departemen Kesehatan RI.

Memberikan pendidikan terkait gizi kepada remaja yang memiliki berat badan berlebih dapat menurunkan IMT pada remaja. Penambahan wawasan mengenai gizi remaja mudah mempengaruhi perubahan perilakunya seperti turunya tingkat kecukupan asupan energi, asupan protein, presentase pada asupan lemak dan menambah tingkat asupan serat. Pada remaja obesitas memiliki rata-rata asupan tinggi seperti pada asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak dibandingkan pada seseorang yang tidak obesitas memiliki tingkat asupan rendah. Jika asupan sudah membaik, perlu adanya edukasi tentang aktivitas fisik untuk remaja, agar remaja mau bergerak dan tidak berfokus pada smartphone saja (Nurmasyita, Widjanarko, & Margawati, 2016).

Perilaku untuk mencegah obesitas bisa dilakukan seperti pola konsumsi yang terjaga dan banyak melakukan aktivitas fisik setiap harinya. Mengatur pola konsumsi dengan baik seperti banyak makan sayur dan buah serta menguranginya makanan dan minuman yang mengandung tinggi gula, juga mengurangi makanan berlemak dan energi yang tinggi, tidak terlalu sering menyantap junk food atau fast food (makanan cepat saji), dapat juga meningkatkan aktivitas fisik untuk mencegah obesitas (Kivimaki et al., 2022).

Aktivitas fisik dapat membantu tubuh dalam membakar kalori lebih sehingga kalori yang masuk tidak tertimbun pada tubuh, karena jika seseorang melakukan aktivitas fisik maka diperlukan energi lebih besar dan begitu juga kalori yang dibutuhkan lebih banyak.

Masa remaja adalah dimana seseorang mengalami periode perkembangan selanjutnya. Perilaku pola makan seseorang menjadi bagian gaya hidupnya, sehingga banyak remaja yang memiliki pola makan yang salah, apalagi ditambah dengan kurangnya aktivitas. Maka dari itu diperlukannya aktivitas fisik bagi seseorang serta makanan sehat agar tidak terjadi obesitas. Selain itu, seseorang harus menjaga frekuensi makan yang tidak berlebih.

Obesitas sendiri juga memiliki beberapa dampak buruk yang ditimbulkan maka sangat diperlukan menjaga kesehatan tubuh untuk menghindari penyakit yang tidak diinginkan akibat obesitas.

Penulis: Azida Alfian Utami, Mahasiswa Prodi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sedang jadi Sorotan, Apa Saja Kegunaan dan Bahaya Asam Sulfat?

Halaman: