•  

logo


Zelensky Bisa Hentikan Konflik Ukraina-Rusia, Moskow: Jika Dia Menginginkannya

Juru bicara Kepresidenan Rusia mengatakan bahwa pertempuran antara Rusia dengan Ukraina bisa diselesaikan jika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersedia memulai proses negosiasi

8 Desember 2022 22:19 WIB

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tempo

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov pada Kamis (8/12) mengatakan bahwa berakhirnya pertempuran antara Rusia dan Ukraina berada di tangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

"Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memahami, jika dia menginginkannya, pertempuran antara Moskow dan Kiev dapat berakhir kapan saja," kata juru bicara Kremlin itu, dikutip RT.com.

“Anda dapat berbicara tentang kapan semua (pertempuran) ini akan berakhir sampai wajah Anda membiru,” kata Peskov menanggapi pernyataan Presiden Ukraina baru-baru ini bahwa konflik bisa berakhir tahun depan.


Spanyol Gagal Lolos ke 8 Besar Piala Dunia 2022, Luis Enrique Dipecat

Sebelumnya, Zelensky berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya tujuannya dalam konflik adalah untuk mengalahkan Rusia di medan perang dan merebut kembali semua wilayah Ukraina yang sudah dikuasai oleh Rusia, diantaranya Semenanjung Krimea, Donetsk, Lugansk, Kherson dan Zaporozhye.

Pada bulan Oktober, Zelensky bahkan menandatangani sebuah dekrit yang melarang digelarnya negosiasi antara Kiev dengan Moskow. Dalam dekrit itu, dinyatakan bahwa Kiev hanya akan menggelar pembicaraan damai jika Rusia sudah tidak lagi dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin.

Di sisi lain, Rusia berulang kali menegaskan bahwa mereka masih membuka peluang untuk melanjutkan proses negosiasi penyelesaian konflik yang sudah terhenti sejak bulan Maret kemarin, saat kedua delegasi bertemu di Istanbul, Turki.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov baru-baru ini mengatakan bahwa Moskow tidak melihat adanya peluang untuk melakukan pembicaraan, karena Kiev telah menetapkan berhentinya proses negosiasi dengan Rusia sebagai undang-undang.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa konflik sebenarnya sudah dimulai pada 2014 silam, ketika AS dan negara-negara Barat mendukung aksi kudeta pemerintahan di Kiev. Kudeta pemerintahan itu membuat beberapa wilayah di Ukraina ingin melepaskan diri dari Kiev, termasuk Semenanjung Krimea, Donetsk dan Lugansk.

Beberapa hari sebelum operasi militer dimulai pada akhir Februari kemarin, Kremlin mengakui Donetsk dan Lugansk sebagai negara merdeka. Kedua wilayah itu memutuskan untuk bergabung dengan Rusia melalui referendum pada September kemarin, bersama dengan wilayah Kherson dan Zaporozhye.

Iran Eksekusi Mati Seorang Warga yang Ikut Demo Anti-Pemerintah

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia