•  

logo


Iran Eksekusi Mati Seorang Warga yang Ikut Demo Anti-Pemerintah

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa pemerintah Iran pada Kamis (8/12) sudah melakukan eksekusi mati terhadap seorang pendemo yang berusaha menyerang petugas keamanan dalam aksi protes anti-pemerintah

8 Desember 2022 21:41 WIB

Aksi protes di Iran
Aksi protes di Iran yahoo

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah Iran pada Kamis (8/12) dikabarkan sudah mengeksekusi mati seorang pria yang berusaha menyerang petugas keamanan dan memblokade sebuah ruas jalan raya di kota Teheran. Menurut kantor berita Tasnim, itu merupakan hukuman mati pertama yang dijatuhkan oleh pemerintah Iran terhadap warga yang melakukan aksi unjuk rasa anti-pemerintah.

Seperti diketahui, gelombang demonstrasi besar-besaran pecah di Iran setelah kematian seorang wanita berusia 22 tahun bernama Mahsa Amini pada 16 September 2022. Banyak pihak menduga Amini tewas di dalam tahanan setelah disiksa oleh petugas.

Menurut laporan Tasnim, pria yang dieksekusi mati pada Kamis (8/12) itu bernama Mohsen Shekari.


Amerika Ingin Konflik Ukraina-Rusia Tetap Berlangsung hingga Akhir 2025

Media pemerintah Iran tersebut merilis sebuah video yang memperlihatkan proses sidang Shekari. Ia mengaku memukul anggota milisi Basij dengan pisau dan memblokir jalan dengan sepeda motornya bersama salah satu temannya.

Kelompok HAM menilai Shekari disiksa dan dipaksa untuk mengaku.

Laporan soal eksekusi Shekari mendapat kecaman dari dunia internasional.

Menteri Luar Negeri Inggris James Cleverly mengatakan bahwa berita soal eksekusi tersebut sudah membuat darahnya mendidih.

"Dunia tidak bisa menutup mata terhadap kekerasan menjijikkan yang dilakukan oleh rezim Iran terhadap rakyatnya sendiri," kata Cleverly dalam cuitan Twitter.

Pemerintah Jerman juga mengutuk eksekusi tersebut.

"Penghinaan rezim Iran terhadap kemanusiaan tidak mengenal batas," kata Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock, dikutip Reuters.

"Tapi ancaman eksekusi tidak akan menghambat keinginan orang untuk bebas," tambahnya.

Amnesty International juga mengatakan bahwa otoritas Iran berusaha menjatuhkan hukuman mati untuk setidaknya 21 orang. Lembaga HAM tersebut mengatakan bahwa "pengadilan palsu" itu dirancang untuk "mengintimidasi mereka yang berpartisipasi dalam pemberontakan yang telah mengguncang Iran".

"Otoritas Iran harus segera membatalkan semua hukuman mati, menahan diri dari upaya pengenaan hukuman mati dan mencabut semua tuduhan terhadap mereka yang ditangkap sehubungan dengan partisipasi damai mereka dalam protes," katanya.

Pada akhir November kemarin, seorang pakar independen yang ditunjuk oleh PBB di Iran prihatin dengan sikap pemerintah Iran dalam menangani para pengunjuk rasa. Menurutnya, tindak represi terhadap pengunjuk rasa semakin meningkat, dengan pihak berwenang meluncurkan "kampanye" untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para pendemo.

PBB mengatakan lebih dari 300 orang telah tewas sejauh ini dan 14.000 ditangkap dalam protes yang dimulai sejak pertengahan September kemarin.

"Saya khawatir rezim Iran akan bereaksi keras terhadap resolusi Dewan Hak Asasi Manusia dan ini dapat memicu lebih banyak kekerasan dan represi di pihak mereka," kata Javaid Rehman kepada Reuters.

Pemerintah Iran sendiri mengklaim jika aksi kerusuhan di seluruh wilayah negaranya adalah hasil operasi intelijen negara-negara Barat. Kepala kehakiman Iran pada bulan lalu juga memerintahkan hakim untuk menjatuhkan hukuman berat bagi "elemen utama kerusuhan".

Spanyol Gagal Lolos ke 8 Besar Piala Dunia 2022, Luis Enrique Dipecat

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia