•  

logo


Amerika Ingin Konflik Ukraina-Rusia Tetap Berlangsung hingga Akhir 2025

Jubir Kemenlu Rusia mengatakan bahwa pada November kemarin pemerintah AS sudah menandatangani kontrak selama tiga tahun dengan Raytheon terkait pembelian sistem pertahanan udara yang akan diberikan kepada Ukraina

8 Desember 2022 20:45 WIB

Juru bicara pemerintah Rusia, Maria Zakharova
Juru bicara pemerintah Rusia, Maria Zakharova istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada hari Kamis (8/12) mengatakan bahwa Amerika Serikat berencana mempertahankan situasi konflik di Ukraina setidaknya hingga akhir tahun 2025.

Berbicara pada konferensi pers di Moskow, Zakharova menjelaskan bahwa dokumen yang diterbitkan oleh otoritas AS pada akhir November 2022 kemarin menunjukkan bahwa Washington sudah menandatangani kontrak selama 3 tahun senilai USD 1,2 miliar dengan perusahaan alutsista Raytheon terkait pembelian sistem pertahanan udara yang akan diberikan kepada Ukraina.

Menurut Zakharova, pemerintahan Joe Biden sudah meminta anggaran senilai USD 37 miliar pada tahun 2023 sebagai bantuan tambahan ke Ukraina. Dia mengatakan bahwa pemerintah Rusia memperkirakan bahwa sebagian besar dari anggaran itu akan digunakan untuk kebutuhan tentara Ukraina.


Ukraina Serang Wilayah Rusia, Moskow: NATO Mengetahui Persiapan Serangan

Sebelumnya, banyak pihak yang memperkirakan jika konflik Ukraina-Rusia kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Pada pertengahan September 2022 kemarin, Sekertaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa keberhasilan pasukan Ukraina dalam merebut kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Rusia seharusnya tidak dianggap sebagai tanda-tanda penyelesaian konflik.

“ini bukan awal dari akhir perang, dan kita harus bersiap untuk (konflik) jangka panjang.”

Komentar Stoltenberg muncul setelah Rusia mengumumkan penarikan pasukannya dari beberapa pemukiman di timur laut Ukraina, termasuk kota Izium, untuk memperkuat pasukan di Donetsk. Sementara itu, Kiev merayakan penarikan pasukan Rusia tersebut sebagai kemenangan.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (7/12) mengatakan bahwa pasukan Rusia masih membutuhkan waktu untuk mencapai semua tujuannya di Ukraina. Hanya saja, pihak Rusia sudah meraih beberapa keuntungan besar.

“Tentu saja, ini mungkin proses yang panjang,” kata Putin, dikutip RT.com.

Ia menegaskan bahwa konflik sebenarnya sudah dimulai pada 2014 silam, ketika AS dan negara-negara Barat mendukung aksi kudeta pemerintahan di Kiev.

Sebuah laporan oleh Politico pada akhir November mengklaim bahwa pemerintah Amerika Serikat memanfaatkan situasi konflik Ukraina untuk mencari keuntungan, dimana hal tersebut dikecam oleh Uni Eropa.

"AS paling diuntungkan dari konflik karena "mereka menjual lebih banyak gas dan dengan harga lebih tinggi, dan karena mereka menjual lebih banyak senjata," kata seorang pejabat senior Uni Eropa yang tidak disebut namanya kepada outlet tersebut.

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban pada hari Selasa (6/12) juga meminta Uni Eropa untuk meninjau kembali kebijakan sanksi anti-Rusia, mendukung pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa konflik di Ukraina lebih berdampak buruk terhadap ekonomi Uni Eropa daripada Amerika Serikat.

"Presiden Emmanuel Macron benar: biaya [konflik Ukraina] tidak sama di kedua sisi Atlantik. Jika kita ingin industri Eropa bertahan, kita harus mengatasi krisis energi Eropa dengan cepat. Sudah saatnya untuk kembali mengevaluasi sanksi," cuit Orban.

Pada hari Senin (5/12), Macron mengatakan kepada CBS News bahwa ada "de-sinkronisasi" dalam hubungan antara Eropa dan Washington karena harga energi yang tinggi.

Presiden Prancis itu mengingatkan bahwa Uni Eropa adalah pembeli gas dan minyak, sedangkan AS adalah produsen. Jadi, seperti dicatat Macron, industri dan rumah tangga Uni Eropa dan Amerika Serikat membeli energi dengan harga berbeda. Kesenjangan ini, kata dia, mempengaruhi daya beli dan daya saing masyarakat Eropa.

China Disebut Punya Hulu Ledak Nuklir Lebih Banyak daripada AS

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia