•  

logo


Presiden Zelensky Bilang Kerusakan Jaringan Energi Ukraina Mustahil Dipulihkan

Presiden Ukraina mengatakan bahwa pihaknya saat ini tidak mungkin memulihkan jaringan energi Ukraina yang hancur karena serangan Rusia

8 Desember 2022 19:35 WIB

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Times of Israel

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden Volodymyr Zelensky pada Rabu (7/12) mengatakan bahwa sistem energi nasional Ukraina, yang mengalami kerusakan akibat serangan Rusia, tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Oleh karena itu, ia meminta warga masyarakat Ukraina untuk tetap bertahan meski tanpa pasokan listrik yang memadai.

"Orang Ukraina tidak boleh lupa bahwa sekarang tidak mungkin memulihkan 100% sistem energi seperti sebelum pasukan Rusia mulai menyerang infrastruktur (kita)," katanya dalam sebuah pidato yang disebarluaskan melalui video pada Rabu (7/12) malam.

“Kami membutuhkan waktu. Inilah mengapa jadwal shutdown (pemadaman listrik) tetap ada di sebagian besar kota dan wilayah,” tambahnya.


Mantan Kanselir Jerman Bongkar Alasan Sebenarnya Ukraina Setujui Perjanjian Gencatan Senjata 2014

Sementara itu, Walikota Vitali Klitschko, pada Rabu (7/12) mengatakan bahwa berlanjutnya serangan Rusia terhadap fasilitas-fasilitas pembangkit energi Ukraina bisa memicu terjadinya skenario bencana di wilayah ibukota, Kiev. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah sudah melakukan semua upaya sehingga penduduk tidak perlu meninggalkan kota.

“Kiev mungkin kehilangan pasokan listrik, air, dan panas. Kiamat mungkin terjadi, seperti di film-film Hollywood, ketika tidak mungkin tinggal di rumah mengingat suhu yang sangat rendah,” kata Klitschko dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

"Tapi kami berjuang dan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan bahwa ini tidak terjadi," tambahnya.

Menurutnya, ratusan titik pemanas yang didirikan oleh pemerintah tidak berfungsi dengan efektif di kota Kiev, yang berpenduduk lebih dari tiga juta orang. Sehingga warga harus menyiapkan persediaan makanan dan air darurat serta pakaian dan dokumen penting jika sewaktu-waktu dievakuasi ke tempat lain.

Pemerintah Ukraina telah mendesak warga untuk mengurangi konsumsi listrik dan telah memberlakukan pemadaman bergilir untuk menjaga operasional sistem energi. Perdana Menteri Denis Shmygal mengatakan pada pertengahan November bahwa kira-kira setengah dari jaringan nasional telah dilumpuhkan oleh serangan Rusia.

Militer Rusia mulai melancarkan serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Ukraina pada Oktober, beberapa hari setelah terjadinya insiden serangan bom yang menghancurkan Jembatan Kerch, yang menghubungkan wilayah Rusia dengan Semenanjung Krimea. Moskow menuduh intelijen militer Ukraina sebagai pelakunya.

Beberapa waktu kemudian, secara mengejutkan Menteri Luar Negeri Ukraina mengatakan bahwa pihaknya sudah melancarkan serangan terhadap infrastruktur milik Rusia, termasuk Jembatan Kerch.

Hal itu ia sampaikan dalam sebuah percakapan dengan duo komedian asal Rusia, Vovan dan Lexus, melalui aplikasi Zoom, pada pertengahan Oktober kemarin.

"Krimea bukanlah target operasional yang paling dekat. Tapi, jika anda bertanya kepada saya siapa yang meledakkan sesuatu (infrastruktur) di Krimea atau Belgorod, maka dalam komunikasi pribadi ini saya akan memberitahu anda bahwa, ya, itu (perbuatan) kami," kata Kuleba dalam sebuah video yang diunggah dalam channel Telegram SputnikInt.

Pada kesempatan itu, Menteri Luar Negeri Ukraina itu juga mengakui bahwa Kiev sudah mempersiapkan operasi serangan balasan di wilayah Selatan negara itu, bersama dengan sekutunya, Amerika Serikat dan Inggris.

DPR AS Tolak Resolusi Audit Dana Bantuan untuk Ukraina

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia