•  

logo


Hadapi Musim Dingin Tanpa Listrik dan Air, Walikota Kiev: Kiamat Mungkin Terjadi

Walikota Kiev memperingatkan warga untuk tetap tenang dan bersiap untuk proses evakuasi setelah sumber daya energi di kota tersebut terancam habis karena serangan Rusia

8 Desember 2022 13:26 WIB

Ilustrasi warga Ukraina yang mengungsi ke Polandia
Ilustrasi warga Ukraina yang mengungsi ke Polandia Al Jazeera

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Walikota Vitali Klitschko, pada Rabu (7/12) mengatakan bahwa berlanjutnya serangan Rusia terhadap fasilitas-fasilitas pembangkit energi Ukraina bisa memicu terjadinya skenario bencana di wilayah ibukota, Kiev. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah sudah melakukan semua upaya sehingga penduduk tidak perlu meninggalkan kota.

“Kiev mungkin kehilangan pasokan listrik, air, dan panas. Kiamat mungkin terjadi, seperti di film-film Hollywood, ketika tidak mungkin tinggal di rumah mengingat suhu yang sangat rendah,” kata Klitschko dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

"Tapi kami berjuang dan melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan bahwa ini tidak terjadi," tambahnya.


Belgia Gagal Lolos Babak 16 Besar Piala Dunia Qatar, Eden Hazard Putuskan Pensiun dari Timnas

Mantan petinju kelas berat itu mengakui bahwa "hampir 500" titik pemanas yang didirikan oleh pemerintah tidak berfungsi dengan efektif di kota Kiev, yang berpenduduk lebih dari tiga juta orang. Sehingga warga harus menyiapkan persediaan makanan dan air darurat serta menyiapkan pakaian dan dokumen penting untuk dievakuasi ke tempat lain jika pemanas sentral dimatikan.

“Jika pasokan listrik tetap tidak ada, sementara suhu di luar tetap rendah, sayangnya kami terpaksa menguras air dari bangunan. Jika tidak, air dapat membeku dan merusak seluruh jaringan pasokan air, dan bangunan akan menjadi tidak layak untuk digunakan,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan tidak perlu mengungsi saat ini, karena Kiev hanya mengalami defisit listrik sebesar 20%.

Sementara itu, sebuah LSM yang mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan di Kiev, Mercy Corps, mengatakan kepada media AS, Newsweek, bahwa seluruh jaringan listrik Ukraina dapat "runtuh dalam beberapa minggu" jika serangan Rusia berlanjut.

"Serangan Rusia membuat kota-kota besar di Ukraina hampir tidak dapat ditinggali selama empat bulan ke depan," kata LSM tersebut.

Rusia mulai menyerang jaringan energi Ukraina sejak Oktober kemarin.

Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa serangan itu merupakan balasan atas serangan provokatif Kiev terhadap infrastruktur sipil Rusia, termasuk Jembatan Kerch yang menghubungkan wilayah Rusia dengan Semenanjung Krimea.

Kementerian pertahanan di Moskow mengatakan serangan itu dimaksudkan untuk menurunkan kemampuan Kiev untuk mengangkut pasukan, serta menghentikan pasokan senjata yang dikirim oleh AS dan sekutunya ke medan perang melalui jalur kereta api.

Berusaha Non-Aktifkan Kongres, Presiden Amerika Latin Ini Dimakzulkan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia