•  

logo


HDI 2022, Kemenang  Serukan Pentingnya Wujudkan Hak dan Keadilan Bagi Penyandang Disabilitas

47.561 peserta didik penyandang disabilitas belajar di madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)

5 Desember 2022 23:10 WIB

Hari Disabilitas Internasional
Hari Disabilitas Internasional Jitunews.com/herumuawin

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Ditjen Pendis Kemenag) melalui Kelompok Pendidikan Islam menggelar Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2022 di Jakarta, Senin (5/12/2022).

Mengusung tema "Berinovasi Bangkitkan Pendidikan Inklusif", Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2022 Kemenag dibuka langsung oleh M Ali Ramdhani selaku Dirjen Pendis Kemenag.

Acara ini dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat Franka Makarim, Bunda Inklusi sekaligus Penasihat DWP Kemenag Eny Retno Yaqut, serta Ketua DWP Kemenag Farikhah Nizar Ali beserta jajarannya.


Arif Wibowo Resmi Pimpin Garuda Indonesia

Dalam kegiatan tersebut juga digelar talkshow dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Staff Khusus Presiden Angkie Yudistia, Anggota Komisi Nasional Disabilitas (KND) Fatimah Asri Mutmainah, dan Direktur Program Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia Kemitraan Australia Indonesia (Inovasi), Mark Heyward.

Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2022 Ditjen Pendis Kemenag ini juga dihadiri para pejabat Pusat dan Dirjen Pendis Kemenag, Pokja dan Tim Ahli Pendis Inklusif serta Darma Wanita Persatuan Kemenag.

Kemudian Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, Kementerian/ Lembaga terkait. Selain itu, Organisasi Mitra, Kepala Madrasah Inklusi, Guru Disabilitas dan GPK, Pengurus FPMI Pusat dan Wilayah, serta peserta didik dan PDBK Madrasah Inklusi.

Dalam sambutannya, Dirjen Pendis Kemenag Ali Ramdhani menekankan tentang pentingnya upaya mewujudkan hak dan keadilan bagi penyandang disabilitas.

"Penting bagi kita untuk terus berupaya mewujudkan hak dan keadilan bagi penyandang disabilitas, termasuk dalam layanan pendidikan," ujar Ali.

Dia mengatakan, saat ini tidak kurang dari 47.561 peserta didik penyandang disabilitas belajar di madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

Ali menyampaikan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah strategis dalam meningkatkan pelayanan akomodasi dan fasilitasi bagi para penyandang disabilitas di lembaga- lembaga pendidikan Islam. Salah satunya adalah pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Pendidikan Islam Inklusif.

"Pokja ini bertugas mengkoordinasikan semua program di setiap Direktorat untuk penanganan dan penyediaan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas," ungkap Ali.

Selain itu, telah dibentuk juga Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI), dan akan menyusul Forum Pengasuh Pesantren Inklusif, Forum Guru Agama Inklusif, Forum Dosen Inklusif.

"Semua dimaksudkan untuk membantu dalam akomodasi dan pendampingan pelayanan bagi penyandang disabilitas di lingkungan Pendidikan Islam," jelas Ali.

Sejalan dengan itu, Penasehat DWP Kemenag Eny Retno Yaqut menyampaikan bahwa Kemenag telah menyusun Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas.

"Kementerian Agama dalam kaitannya ini melakukan upaya yang sungguh-sungguh memberikan layanan kepada penyandang disabilitas," ungkap Eny.

"Kami sadar, bahwa pemberian fasilitasi akomodasi yang layak kepada para penyandang disabilitas, bukanlah semata keharusan konstitusi negara, namun juga kewajiban keagamaan dan kemanusiaan. Sebab, agama sangat memuliakan manusia, apapun kondisinya," terangnya.

Sementara itu, Ketua DWP Pusat Franka Makarim menuturkan bahwa pendidikan inklusi sejatinya bukan hanya tentang sistem, tapi juga perwujudan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan bagi penyandang disabilitas di sekolah.

"Sekolah harus mampu memberikan pembelajaran yang optimal bagi seluruh peserta didik terlepas latar belakang dan kondisi kebutuhan yang mereka butuhkan,"
tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Franka juga menghimbau kepada seluruh pengurus DWP dari setiap lembaga dan kementerian, pemerintahan daerah dan instansi terkait agar mencari tahu lebih banyak lagi program inklusif yang bisa didukung secara nyata di kelembagaan masing- masing.

"Kita perlu memberikan edukasi kepada masyarakat luas, menanamkan pemahaman bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan memerdekakan mereka untuk mengembangkan bakat dan potensinya," tuturnya.

"Mari kita bangkitkan pendidikan inklusi yang memerdekakan demi terwujudnya mimpi anak bangsa dan cita-cita merdeka belajar bersama," jelas Franka.

Pada Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2022 yang digelar Kemenag,
Staff Khusus Presiden Angkie Yidistia menyampaikan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk memastikan terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas sebagimana arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Saya senang sekali bisa hadir di Hari Disabilitas Internasional 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama yang bertemakan 'Berinovasi Bangkitkan Pendidikan Inklusif' seperti arahan bapak presiden bahwa beliau menginginkan untuk prioritas penyandang disabilitas terhadap pendidikan inklusif," ujarnya.

"Biar bagaimanapun penyandang disabilitas di seluruh Indonesia yang memiliki jumlah 22 juta jiwa berdasarkan data BPS 2020, ini cukup tinggi sekali dan kita membutuhkan anak dengan disabilitas ini untuk tumbuh dengan potensi yang dimiliki," sambungnya.

Angkie menjelaskan, Presiden Jokowi sudah mengesahkan sembilan peraturan turunan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sejak 2019 hingga 2020.

Hal tersebut, lanjut Angkie Yudistia, merupakan wujud komitmen penuh Presiden Jokowi untuk menjalankan amanat UU tentang Penyandang Disabilitas itu.

"Untuk meningkatkan potensi dan kualitas penyandang disabilitas diperlukan support system dan ekosistem yang jelas. Pemerintah juga terus berinovasi beradaptasi sesuai dengan kebutuhan dari penyandang disabilitas," pungkasnya.

Wahh, Usai RUPS 6 Direksi Garuda Dicopot

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar