•  

logo


Finlandia Ungkap Alasannya Ingin Gabung NATO

Menteri Luar Negeri Finlandia menjelaskan bahwa ancaman nuklir Rusia sudah mendorong negaranya untuk bergabung dengan NATO

5 Desember 2022 12:48 WIB

Menlu Finlandia Pekka Haavisto
Menlu Finlandia Pekka Haavisto istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto, pada Minggu (4/12) mengatakan bahwa "ancaman nuklir" Rusia di tengah konflik Ukraina adalah faktor kunci yang mendorong Finlandia untuk menjadi anggota NATO.

Berbicara kepada kantor berita Kyodo di Polandia di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), Haavisto mengatakan bahwa operasi militer Rusia di Ukraina sudah menunjukkan bahwa “realitas keamanan di Eropa telah berubah.”

Ia mengklaim bahwa retorika nuklir Rusia mendorong Finlandia untuk berpikir tentang bagaimana menanggapi dan di mana ia bisa mendapatkan dukungan, yang mengarah ke keputusan untuk mencari keanggotaan NATO.


Macron Minta NATO Beri Jaminan Keamanan untuk Rusia setelah Perang Ukraina Berakhir

Pada akhir September, Presiden Rusia Vladimir Putin mengisyaratkan bahwa dia akan menggunakan "segala cara" yang diperlukan untuk mempertahankan negara jika integritas teritorialnya terancam. Hal itu memicu kekhawatiran di negara-negara Barat bahwa Rusia dapat menggunakan senjata nuklir di tengah situasi konflik dengan Ukraina.

Pejabat senior Rusia berkali-kali menegaskan bahwa Moskow tidak pernah mengancam siapa pun dengan senjata nuklir. Selain itu, doktrin pertahanan Rusia saat ini mengizinkan serangan nuklir hanya jika keberadaan negara terancam.

Finlandia, bersama dengan negara tetangganya, Swedia, mengajukan permohonan untuk bergabung dengan blok militer pimpinan AS pada Mei 2022, mengakhiri kebijakan netralitas kedua negara selama puluhan tahun. Hanya saja, permohonan kedua negara selama ini masih belum mendapatkan persetujuan dari Hungaria dan Turki.

Haavisto mengatakan bahwa Hungaria telah mengisyaratkan akan memberikan persetujuannya pada awal Februari 2023 mendatang. Ia juga berharap Turki juga akan memberikan persetujuannya pada tahun depan.

Ada Batasan Harga, Rusia Ancam Turunkan Kapasitas Produksi Minyak

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia