•  

logo


Ternyata Ini Alasan AS Minta Turki Tak Gelar Operasi Militer Jalur Darat ke Suriah

Menurut AS, operasi militer Turki di Suriah sudah merusak upaya AS dalam memerangi kelompok teroris ISIS

30 November 2022 17:17 WIB

Pasukan Militer Turki
Pasukan Militer Turki istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, pada Selasa (29/11) memperingatkan bahwa operasi militer jalur darat yang rencananya akan digelar oleh Turki ke wilayah Suriah Utara dan Irak Utara akan "sangat berbahaya" bagi upaya melawan kelompok ekstremis ISIS yang selama ini sudah dilakukan oleh AS.

Turki telah melakukan serangan udara terhadap zona Kurdi semi-otonom di Suriah dan Irak utara setelah terjadinya insiden serangan bom di Istanbul pada pertengahan November kemarin. Insiden tersebut menewaskan enam orang dan melukai 81 orang. Turki menyatakan kelompok militan Kurdi yang tergabung dalam Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

“Konflik yang berkelanjutan, terutama invasi darat, akan sangat membahayakan perjuangan keras yang telah dicapai dunia melawan ISIS dan akan membuat kawasan tidak stabil,” kata Sekretaris Pers Pentagon Brigadir Jenderal Pat Ryder kepada wartawan.


Pendemo di Iran Terancam Hukuman Mati, Pakar PBB: Saya Khawatir

"Kami... tetap prihatin dengan potensi operasi darat Turki di Suriah, dan sekali lagi akan mendesak penghentian (operasi militer tersebut)," katanya.

Seperti diketahui, dalam melawan kelompok ISIS di Suriah, pasukan Amerika Serikat sudah mendapat bantuan dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang beranggotakan milisi Kurdi.

Ryder mengatakan pasukan AS telah mengurangi jumlah patroli bersama dengan kelompok SDF.

"Kami telah mengurangi jumlah patroli karena ... kami melakukan ini bermitra dengan SDF, sehingga mereka mengurangi jumlah patroli yang mereka lakukan," katanya.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Turki bertekad untuk "membasmi" kelompok teroris yang selama ini menjadi ancaman utama terhadap keamanan nasinal Turki, dimana pun mereka berada atau dengan pihak mana kelompok teroris tersebut bekerja sama.

“Tidak peduli dengan siapa kelompok teroris itu berkolusi, Turki akan selalu meminta pertanggungjawaban mereka atas setiap tetes darah yang mereka tumpahkan,” kata Erdogan dalam pidatonya pada akhir pekan lalu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menghancurkan kelompok teroris PKK, yang selama ini menjadi ancaman utama bagi keamanan nasional Turki, meski hal tersebut memicu kecaman dari Amerika Serikat yang juga merupakan salah satu sekutu NATO Turki.

"Kami tidak perlu mendapatkan izin dari siapa pun saat mengambil langkah-langkah terkait keamanan tanah air dan rakyat kami, dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban kepada siapa pun," tambah Erdogan.

Ia juga mengkritik sikap pemerintah AS yang selama ini justru bekerja sama dengan militan Kurdi dalam upaya pemberantarasan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak.

"Kami tidak harus mentolerir kemunafikan mereka yang mendukung kelompok teroris terdaftar dengan permainan mengubah nama," kata Erdogan.

 

Pentagon Khawatir Jumlah Hulu Ledak Nuklir China Bakal Meningkat Tiga Kali Lipat pada 2035

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia