•  

logo


Dialog Konstruktif NATO-Rusia Gagal, Sekjen NATO Salahkan Moskow

Sekjen NATO mengatakan bahwa pihaknya tidak mungkin dapat melanjutkan dialog kontruktif dengan Rusia setelah Moskow melancarkan serangan terhadap Ukraina

29 November 2022 22:38 WIB

Bendera NATO dan Rusia (kiri)
Bendera NATO dan Rusia (kiri) istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Selasa (29/11) mengatakan bahwa dialog konstruktif dengan Moskow, yang sudah diupayakan oleh NATO selama bertahun-tahun, saat ini tidak berfungsi.

“Apa yang dapat saya katakan atas nama NATO adalah bahwa selama bertahun-tahun kami mengupayakan hubungan yang lebih konstruktif dengan Rusia, kami mengupayakan dialog yang konstruktif, dan Rusia telah meninggalkan dialog itu. Tidak mungkin kami dapat melanjutkan dialog yang bermakna kami mencoba membangun selama bertahun-tahun dengan perilaku dan tindakan agresif Rusia terhadap Ukraina seperti yang kita lihat sekarang," kata Stoltenberg dalam pidatonya pada pembukaan pertemuan NATO yang digelar di Rumania.

Sementara itu, Rusia menuduh NATO sudah melanggar janji yang sudah mereka sepakati, dengan melakukan ekspansi ke Eropa Timur, mendekat ke perbatasan Rusia. Hal ini, dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional Rusia.


Kirim Kendaraan Tempur Usang buatan Soviet ke Ukraina, Slovakia Bakal Dapat Belasan Tank Leopard Jerman

Selain itu, pemerintah Rusia juga menganggap ekspansi NATO ke Eropa timur sebagai bentuk agresi, dimana hal itu tidak akan membuat Eropa menjadi aman.

Desember lalu, Rusia mengusulkan kepada NATO dan Amerika Serikat untuk menyusun jaminan keamanan baru yang dapat diterima bersama di Eropa. Mereka mengadakan beberapa putaran pembicaraan pada bulan Januari.

Dalam proposalnya, Rusia mencantumkan sejumlah kekhawatiran soal keamanan nasionalnya sebagai akibat dari kebijakan ekspansi NATO di Eropa Timur. Rusia juga meminta NATO tidak mengerahkan senjata ofensifnya di dekat perbatasan Rusia dan mengembalikan “kemampuan dan infrastruktur militer” NATO seperti sebelum negara-negara bekas anggota Pakta Warsawa di Eropa Timur bergabung dengan aliansi. Rusia juga meminta jaminan dari NATO bahwa Ukraina akan secara permanen dilarang bergabung dengan aliansi tersebut.

Hanya saja, permohonan Rusia tersebut tidak mendapatkan respon dari Amerika Serikat maupun NATO.

“Pertanyaan kunci diabaikan – bagaimana Amerika Serikat dan sekutunya berniat untuk mengikuti prinsip integritas keamanan … bahwa tidak ada yang harus memperkuat keamanan mereka dengan mengorbankan keamanan negara lain,” kata Presiden Vladimir Putin, dalam pernyataan tertulisnya yang dirilis pada akhir Januari 2022 kemarin.

Kapal Perang AS Kedapatan Masuki Wilayah Perairan China

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia