•  

logo


Menlu Ukraina Sebut Pihaknya Siap Lanjutkan Negosiasi Damai dengan Rusia, Asalkan...

Menlu Ukraina menegaskan bahwa negosiasi damai dengan Rusia bisa dilanjutkan jika Moskow mengembalikan sejumlah wilayah milik Ukraina yang sudah mereka kuasai

26 November 2022 13:08 WIB

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba pada Jumat (25/11) menegaskan bahwa Kiev tidak keberatan untuk melanjutkan negosiasi dengan Rusia.

"Ukraina tidak menentang negosiasi. (Presiden Ukraina) Volodymyr Zelensky di KTT G20 berbicara tentang 'perdamaian dunia' dan menyatakan keinginan untuk mencapainya," kata menteri tersebut dalam wawancara dengan surat kabar Prancis Le Parisien.

Namun, sebelum negosiasi bisa dilanjutkan, Rusia harus menyetujui beberapa syarat, salah satunya dengan mengembalikan semua wilayah bekas Ukraina yang mereka kuasai.


AS Kecam Operasi Militer Turki di Suriah, Erdogan: Tidak Peduli

“Perdamaian yang adil dimulai dengan pemulihan penuh integritas teritorial Ukraina,” tambah diplomat itu.

Pada 15 November, Zelensky, dalam pesan video ke KTT G20, mengatakan bahwa Kiev tidak ingin menandatangani perjanjian damai yang akan bertentangan dengan kepentingan Ukraina dan yang akan "dilanggar Moskow".

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, mengomentari pernyataan Zelensky, mengatakan bahwa kata-katanya "benar-benar menegaskan" keengganan Kiev untuk bernegosiasi.

Seperti diketahui, sejumlah wilayah bekas Ukraina, diantaranya Semenanjung Krimea, Donetsk, Lugansk, Kherson dan Zaporozhye, sudah memutuskan untuk bergabung dengan Rusia.

Setelah aksi kudeta pemerintahan di Kiev pada tahun 2014, Semenanjung Krimea memutuskan untuk bergabung dengan Federasi Rusia melalui referendum.

Kelompok separatis di Donetsk dan Lugansk, dua wilayah di provinsi Donbass, juga menyatakan kemerdekaannya dari Ukraina di tahun itu. Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari pasukan Kiev. Banyak dari warga sipil Donbass yang menjadi korban dari pertempuran antara pasukan Ukraina dengan dua kelompok separatis tersebut. Hal itu membuat Perancis, Jerman dan Rusia prihatin. Ketiganya berhasil memediasi Ukraina, kelompok separatis Donetsk dan Lugansk, melalui perjanjian Minsk.

Dalam perjanjian tersebut, Ukraina diminta memberikan status otonomi khsusus bagi Donetsk dan Lugansk. Namun, selama hampir delapan tahun, Ukraina gagal mengimplementasikan perjanjian tersebut. Pertempuran antara Kiev dan pasukan separatis kembali meningkat. Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya mengakui kemerdekaan Donetsk dan Lugansk. Beberapa hari kemudian, Putin memulai operasi militer khusus di dua negara baru tersebut untuk melindungi warga sipil di sana dari serangan militer Ukraina.

Pada September 2022, Donetsk dan Lugansk, serta dua wilayah lain, yakni Kherson dan Zaporozhye, memutuskan untuk bergabung dengan Federasi Rusia melalui referendum, atau jajak pendapat. Namun, jajak pendapat tersebut menuai kecaman dari Ukraina dan negara-negara Barat. Mereka menilai referendum tersebut adalah rekayasa Rusia untuk merebut wilayah Ukraina.

Pos Militer AS di Suriah Dihantam Rudal, Ulah Turki?

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia