logo


Operasi Militer Turki Disebut Ancam Keselamatan Tentara AS di Suriah, Ankara: Tidak Mungkin

Menhan Turki menegaskan bahwa pihaknya hanya menargetkan anggota kelompok teroris atau fasilitas yang terkait dengan kelompok tersebut dalam operasi militernya di Suriah

25 November 2022 21:51 WIB

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar
Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pada Jumat (25/11) mengatakan bahwa operasi militer yang mereka gelar di wilayah Suriah dan Irak Utara tidak akan membahayakan keselamatan personil militer AS yang bertugas di wilayah itu. Ia menegaskan bahwa sasaran serangan militer Turki hanyalah para teroris atau fasilitas yang mereka miliki.

“Tidak mungkin bagi kami untuk menyakiti pasukan koalisi atau warga sipil. Kami hanya memiliki satu target, dan itu adalah teroris,” kata Hulusi Akar kepada wartawan pada hari Jumat, seperti dikutip oleh kantor berita Anadolu Agency.

Pernyataan itu ia sampaikan untuk menanggapi laporan yang menyebut bahwa militer Turki membom sebuah pos pengamatan AS minggu ini.


Anwar Ibrahim Resmi Jadi PM Malaysia, Begini Reaksi Netijen Negeri Jiran

Pada Rabu kemarin, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengatakan bahwa operasi militer yang dilakukan oleh Turki di wilayah Suriah utara sudah mengancam keselamatan personil tentara AS yang ditugaskan di wilayah itu, serta mengganggu upaya AS membasmi kelompok teroris ISIS.

Menurut kementerian tersebut, serangan udara Turki menghantam sebuah bangunan yang berjarak sekitar 300 meter dari pasukan Amerika yang ditempatkan di dekat kota Hasakah di Suriah.

"Serangan udara (Turki) baru-baru ini di Suriah secara langsung mengancam keselamatan personel AS yang bekerja di Suriah dengan mitra lokal untuk mengalahkan ISIS dan mempertahankan tahanan lebih dari sepuluh ribu tahanan ISIS," kata juru bicara Pentagon Patrick Ryder dalam sebuah pernyataan, dikutip Anadolu Agency.

Ryder mengatakan Pentagon "sangat prihatin dengan meningkatnya tindakan di Suriah utara, Irak, dan Turki," menambahkan bahwa eskalasi tersebut "mengancam kemajuan Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS yang sudah digelar selama bertahun-tahun."

Dia juga mengatakan bahwa tindakan militer yang tidak terkoordinasi dengan baik juga akan mengancam kedaulatan Irak.

"De-eskalasi segera diperlukan untuk mempertahankan fokus pada misi kekalahan-ISIS dan memastikan keselamatan dan keamanan personel di lapangan yang berkomitmen untuk misi kekalahan-ISIS," kata Ryder.

“Kami mengutuk hilangnya nyawa warga sipil yang terjadi di Turki dan Suriah sebagai akibat dari tindakan (Turki) ini dan menyampaikan belasungkawa kami. Kami juga prihatin dengan laporan tentang penargetan infrastruktur sipil yang disengaja,” tambahnya.

Sejak 2014, Turki telah bekerja sama dengan AS dan beberapa negara lain dalam perang melawan organisasi teroris ISIS di Suriah dan Irak. Meski kelompok tersebut kini sudah berhasil dilemahkan, namun AS mengatakan bahwa mereka perlu mempertahankan kehadiran militer di Suriah untuk menjaga kelompok itu tetap terkendali. Hanya saja, hal tersebut bertentangan dengan keinginan pemerintah Suriah.

Mantan Presiden AS Donald Trump juga pernah mengakui bahwa personil militer AS masih disiagakan di Suriah untuk melindungi ladang minyak di negara tersebut.

Turki meluncurkan Operasi Claw-Sword di Suriah dan Irak setelah terjadinya serangan bom di Istanbul pada pekan lalu. Pemerintah Turki mengatakan bahwa serangan bom tersebut dilakukan oleh Partai Pekerja Kurdi (PKK/YPG), yang selama ini dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh Ankara.

Sementara itu, milisi Kurdi yang berbasis di Suriah selama ini sudah menjadi sekutu AS dalam kampanye melawan ISIS. PKK juga membantah terlibat dalam serangan Istanbul.

Nggak Lagi Gunakan Dolar AS, Negara Afrika Ini Justru Ingin Gunakan Emas untuk Beli Minyak

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia