logo


Bangun Smelter, PTMSP Rogoh Kocek US$ 320 Juta

Dalam investasi tersebut, PTMSP menggandeng perusahaan asal Tiongkok

12 Juni 2015 11:29 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dalam rangka meresmikan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel (smelter), pada hari Kamis (11/6/2015) kemarin, PT Megah Surya Pertiwi (PTMSP) telah melaksanakan acara peletakan batu pertama pembangunan smelter di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Dengan tujuan memenuhi kewajiban peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri, maka PTMSP didirikan sebagai perusahaan patungan dalam bidang usaha industri pembuatan logam. PTMSP tersebut dibentuk oleh perusahaan-perusahaan pertambangan di bawah divisi Harita Nikel yang beroperasi di Halmahera Selatan dan sekitarnya, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang (UU) No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara.

Dalam melakukan investasi terkait pembangunan smelter di Pulau Obi tersebut, Harita Nikel menggandeng sebuah Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari Tiongkok, yaitu Xinxing Ductile Iron Pipes Co., Ltd. melalui anak perusahaannya yang bernama XinXing Qiyun Investment Pte Ltd dan Corsa Investments Pte. Ltd. Sedangkan dari pihak Harita sendiri diwakili oleh PT Harita Jayaraya yang merupakan induk perusahaan Harita Group di Indonesia.


Per Januari 2020 Bijih Nikel Dilarang Diekspor

Senior General Manager Harita Nikel, Arif Perdanakusumah mengungkapkan, bahwa smelter yang akan dibangun PTMSP itu menggunakan teknologi Rotary Kiln Submerged Arc Furnace (RK-SAF) yang terdiri dari 3 line yang akan memerlukan daya listrik sebesar 120 

Megawatt (MW). Untuk menyuplai kebutuhan tenaga listrik tersebut, PTMSP pun akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara mandiri, yang terdiri dari 3 unit pembangkit dengan kapasitas 3x@40 MW sesuai kebutuhan smelter.

"Pembangunan konstruksi smelter dan sarana pendukungnya akan dimulai pada pertengahan 2015 dan diperkirakan berlangsung sekitar 24 bulan," ungkap Arif dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (12/6).

Arif juga menjelaskan, bahwa produk yang akan dihasilkan dari smelter ini adalah Ferronickel dengan kapasitas produksi sebesar 190,000 ton per tahun. 

Dengan kapasitas sebesar ini maka smelter ini nantinya tidak hanya memproses bahan mentah nikel dari perusahan-perusahaan pertambangan yang berafiliasi dengan Harita, namun dapat juga menerima suplai dari perusahaan-perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan-Operasi Produksi (IUP-OP) Nikel lainnya di Halmahera Selatan dan sekitarnya melalui hubungan bisnis yang saling menguntungkan.

"Dengan adanya Pembangunan Smelter Nikel ini diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan ekonomi yang baru di Halmahera Selatan, khususnya di Pulau Obi yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat lokal dan nasional, melalui pembayaran pajak dan non-pajak, penyerapan tenaga kerja, dan program pengembangan masyarakat," pungkasnya.

Sekedar informasi, acara peletakan batu pertama tersebut dihadiri dan diresmikan oleh Gubernur Maluku Utara dan Bupati Halmahera Selatan, masing-masing didampingi oleh anggota Forum Kordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Camat Obi dan dari perwakilan masyarakat desa sekitar.

Kementerian ESDM Minta Pelaku Tambang Sampaikan Masterplan ke Pemda

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin