•  

logo


Menko PMK Ajak Semua Berbenah Setelah Bencana Sosial Kanjuruhan

Isak tangis mewarnai kunjungan Menko PMK di keluarga korban tragedi Kanjuruhan di Probolinggo

10 Oktober 2022 12:21 WIB

Menko PMK, Muhadjir Effendy
Menko PMK, Muhadjir Effendy Humas Kemenko PMK

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengunjungi rumah keluarga korban tragedi Kanjuruhan 1 Oktober yang ada di Dusun Krajan, Desa Kota Anyar, Kabupaten Probolinggo dan Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo pada Minggu (09/10/2022).

Keluarga korban yang dikunjungi atas nama almarhum Moh. Kindi Arumi (19 tahun) warga Dusun Krajan, Desa Kota Anyar, Kabupaten Probolinggo dan Keluarga almarhum Yanuar Dwi Bramastyo (15 tahun) warga Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Suasana isak tangis akhirnya pecah saat Menko Muhadjir menemui keluarga korban, ia memberikan santunan sebesar Rp 15 juta dan bantuan paket sembako kepada masing-masing ahli waris korban tragedi Kanjuruhan. Ia juga memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan. Dalam kunjungan itu Muhadjir didampingi Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Kementerian Sosial Mira Riyanti.


ARMY Indonesia Galang Dana untuk Korban Kanjuruhan, Terkumpul Lebih dari Rp447 Juta

Wana Wati, ibu kandung almarhum Moh. Kindi Arumi, mengatakan bahwa dukungan pemerintah sangat membantu pihak keluarga mulai dari identifikasi korban hingga pengantaran jenazah ke rumahnya.

"Kami sebagai keluarga sangat terbantu fukungan pemerintah dalam mengidentifikasi para korban. Sehingga memudahkan pencarian anak kami," jelasnya dalam siaran pers yang diterima oleh redaksi Jitunews pada Senin (10/10).

Menko Muhadjir menjelaskan bahwa tragedi kanjuruhan tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi oleh seluruh pihak untuk berbenah dan jangan sampai terulang kembali.

"Sudah waktunya kita untuk bebenah, meningkatkan profesionalisme di dunia persepakbolaan. Termasuk di dalam penyelenggaraan, tata kelola, sarana prasarana pendukung, termasuk sistem pengamanan," ujar menteri yang tinggal di Malang ini.

Sistem pengamanan diusahakan bisa mematuhi sesuai standar FIFA, sehingga mencegah terjadinya pelanggaran dalam menerapkan prosedur keamanan yang dapat berakibat fatal.

Menurut Menko Muhadjir tragedi Kanjuruhan tersebut merupakan "bencana sosial". Pemerintah sudah melakukan tahap mitigasi, mulai dari mengidentifikasi korban yang dirawat maupun meninggal dunia, hingga diserahkan kepada keluarga.

Semua biaya perawatan korban dan pengantaran jenazah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Ia berharap tidak ada oknum yang meminta dana kepada korban maupun keluarga korban terkait hal tersebut.

"Jadi sekali lagi kalau masih ada ketika mengangkut jenazah itu pihak ambulans mengenakan biaya, mohon biayanya dikembalikan pada ahli waris. Dan nanti dari pihak ambulans bisa minta ke pemerintah Pemkab setempat. Atau kepada Kemenko PMK nanti kita akan ganti. Jadi seluruh pengobatan gratis. Termasuk untuk yang masih takut berobat, takut bayar, datang segera ke rumah sakit sebelum cederanya berkepanjangan," ucap Muhadjir.

Pemerintah saat ini juga sedang mengidentifikasi siapa saja korban yang meninggal dunia merupakan tulang punggung keluarganya. Supaya dapat diberikan bantuan sosial untuk mencegah timbulnya keluarga miskin baru.

Sebagai tambahan informasi, Jumlah korban meninggal dunia sebanyak 131 orang. Dari total korban tersebut, 90 orang di antaranya laki-laki dan 40 orang perempuan. Kebanyakan korban adalah remaja rentang usia 12-24 tahun. Sementara satu korban masih balita berusia 4 tahun.

Hindari Risiko, FIFA Sarankan Perubahan Jadwal Pertandingan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia