logo


Waspada WFD, Slamet Soebjakto : Pembudidaya Harus Disiplin!

Penyakit ini menyebabkan kematian udang di pemeliharaan 40 hari

10 Juni 2015 18:39 WIB

Dirjen Budidaya Perikanan Slamet Soebjakto (Jitunews/Bayu Erlangga)
Dirjen Budidaya Perikanan Slamet Soebjakto (Jitunews/Bayu Erlangga)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Saat ini, udang masih merupakan komoditas unggulan baik bagi pembudidaya maupun eksportir karena harganya yang cukup tinggi dan pasar yang masih terbuka. Meski begitu, Dirjen Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengingatkan semua masyarakat, terlebih pembudidaya udang untuk tidak terlena dan waspada dengan melakukan langkah-langkah pencegahan dan antisipasi munculnya serangan penyakit yang sudah menyerang beberapa negara di Asia.

Setelah menegaskan bahwa udang Indonesia negatif penyakit EMS,  Slamet tak memungkiri bahwasanya budidaya udang di Indonesia masih dibayang-bayangi serangan penyakit, macam white spot syndrome virus (WSSV) dan white feses disease (WFD). 

Untuk saat ini sendiri, penyakit udang yang sedang ramai melanda adalah white feces disease. Penyakit kotoran putih ini hampir merata menyerang tambak udang Indonesia. Hal ini karena pembudidaya tidak melakukan cara budidaya yang baik dan benar. 


Asa Baru di Alam Gersang Sumba Timur

"White feces disease terbanyak di daerah Lampung. Penyakit ini menyebabkan kematian udang di pemeliharaan 40 hari," ujarnya saat melakukan konferensi pers di Menara 165, Jakarta, Rabu (10/6).

Serangan penyakit pada umumnya diawali dengan menurunnya kualitas lingkungan budidaya diantaranya meningkatnya konsentrasi Total Amonia Nitrogen (TAN) dan alkalinitas, tingkat kecerahan yang lebih rendah serta adanya suksesi plankton dari Cyanophyta menjadi jenis Dinoflagellate dan Ciliata/Protozoa. Sedangkan secara mikrobiologi tambak yang terserang WFD memiliki jumlah vibrio koloni hijau yang lebih tinggi dibandingkan tambak normal.  

“Penyakit ini menyebabkan hepatonpankreas udang rusak karena banyaknya bahan organik dalam perairan budidaya. Diduga kuat  penyakit ini disebabkan oleh serangan parasit gregarin. Intinya sih, penyakit ini ada karena pembudidaya sendiri tak disiplin dalam mengelola manajeman tambaknya,” papar Slamet.

Menanggapi masalah ini, pihaknya sudah menyarankan untuk membuat surat edaran kepada Kepala Dinas di Kabupaten atau Kota agar tidak menggunakan induk dari tambak.

"Kita mengimbau masyarakat, khususnya pembudidaya udang, tidak menggunakan pakan secara berlebih agar lingkungan tidak banyak bahan organik. Karena akan menumbuhkembangkan cacing atau gregarin, yang menyatu dengan kotoran," pungkasnya.

Slamet menuturkan, pencegahan penyakit udang dapat dilakukan dengan melarang penggunaan induk yang berasal dari tambak pembesaran. Sebab penggunaan induk udang yang berasal dari tambak pembesaran, sangat rentan terhadap munculnya penyakit baik itu EMS maupun WFD.

Slamet pun telah menugaskan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perikanan Budidaya khususnya Budidaya Air Payau, untuk mengawasi dan mencegah terjadinya seleksi induk dari tambak tersebut. Itu merupakan salah cara untuk mencegah munculnya penyakit WFD tersebut. Saat ini, untuk mencegah penyakit ini yang perlu dilakukan adalah melakukan persiapan lahan sesuai anjuran antara lain melakukan pengeringan lahan secara sempurna, kemudian menggunakan benih udang dari unit pembenihan bersertifikat. 

Ia juga menyarankan untuk menghindari penggunaan benih udang dari unit pembenihan yang belum menerapkan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Karena dikuatirkan adanya penggunaan induk udang tanpa melakukan selective breeding secara tepat, sehingga benih yang dihasilkan kurang bermutu dan mudah terserang penyakit. KKP mendorong penerapan CPIB dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di semua unit usaha budidaya perikanan.

Sebab, penerapan CPIB di unit pembenihan dan CBIB di unit pembesaran secara tepat dan sesuai anjuran akan menghasilkan hasil yang berkualitas dan usahanya pun dapat terus berjalan dan berproduksi.

KKP Restocking Ribuan Ikan Nemo dan Kuda Laut di Pulau Tegal Lampung

Halaman: 
Penulis : Puput Indah Lestari, Riana