logo


Dirjen Budidaya KKP : Aman, Udang Indonesia Negatif Penyakit EMS!

Tim buser sudah menganalisa, hasilnya udang Indonesia negatif EMS

10 Juni 2015 18:16 WIB

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto (Jitunews/Bayu Erlangga)
Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto (Jitunews/Bayu Erlangga)

JAKARTA, JITUNEWS.COM– Udang merupakan komoditas primadona perikanan budidaya. Saat ini negara Asia yang mendominasi produk udang adalah Tiongkok, Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, India, dan Banglades. 

Kini, produksi udang dunia sedang dihantui penyakit udang baru bernama early mortality syndrome (EMS). Penyakit ini pun menjadi momok menakutkan bagi para pembudidaya udang, tak terkecuali di Indonesia. Betapa tidak, penyakit ini bisa menyebabkan kematian hingga 100% pada udang budidaya berusia 20-30 hari!

Melihat merebaknya penyebaran penyakit tersebut di Tiongkok, Vietnam, Thailand, Malaysia, India, dan Mexico, membuat kekuatiran tersendiri bagi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Slamet Soebjakto. Dalam jumpa persnya di gedung Menara 165, Jakarta, Rabu (10/6), Slamet pun dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia bebas dari penyakit EMS.


Asa Baru di Alam Gersang Sumba Timur

"Ada pengaduan, di Lampung dan Medan banyak terjadi kematian udang. Di Medan sendiri, isu tentang penyakit ini (EMS) cukup heboh. Namun,  setelah dianalisa, alhamdulilah penyakit yang ditakutkan EMS, ternyata bukan. Kita sudah turunkan tim buser untuk mengecek dan ternyata tidak ada indikasi EMS," ujar Slamet sumringah. 

Slamet melanjutkan, pihaknya sudah melakukan tes di beberapa daerah di Medan dan tidak ada indikasi udang terkena EMS, melainkan White Spot Syndrome Virus (WSSV).

“Tim buser  kita sudah mengambil sample dari beberapa daerah, lalu dianalisa menggunakan PCR, positif white spot. Jadi saya kira keragu-raguan masyarakat, khususnya pembudidaya udang akan terjangkitnya EMS atau AHPND itu sudah terjawab,” tutur Slamet. 

Mewaspadai penyebaran EMS yang sedang mewabah di beberapa negara, ia menjelaskan, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan DJPB telah bekerjasama dengan Shrimp Club Indonesia (SCI), Dinas terkait di Provinsi dan kabupaten/kota.

Upaya lainnya adalah penguatan kemampuan deteksi dini laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan lingkup DJPB melalui peningkatan kapasitas laboratorium seperti kompetensi sumberdaya manusia, pemutahiran peralatan uji, serta pembuatan standar metode uji dalam mendeteksi sumber penyebab munculnya penyakit.

"Sejak tahun 2013 telah melakukan sosialisasi melalui Gerakan Safari EMS ke sentra-sentra produksi udang. Juga menggelar seminar tentang pengenalan, pencegahan dan pengendalian EMS," tuturnya.

Lebih lanjut Slamet menuturkan, untuk meminimalisir serangan penyakit dalam budidaya udang, maka pembudidaya pun harus menerapkan kaidah Good Aquaculture Practices (GAP). 

“Untuk meminimalisir penyakit, serta meningkatkan kualitas produksi, maka pembudidaya perlu menerapkan kaidah GAP atau Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) yang nantinya akan mendorong peningkatan efisiensi dan kemandirian. Selain itu juga akan memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Dan hal ini selaras dengan kebijakan pembangunan perikanan budidaya yaitu menuju perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan”, pungkas Slamet.

KKP Restocking Ribuan Ikan Nemo dan Kuda Laut di Pulau Tegal Lampung

Halaman: 
Penulis : Puput Indah Lestari, Riana