logo


Akui Larangan Berlaga di Kandang Memberatkan, Bos Arema: Kita Tak Bisa Mendapat Pemasukan dari Tiket

Sementara ini, Gilang ingin fokus pada upaya penyelamatan korban dan menyantuni keluarga korban meninggal dunia.

3 Oktober 2022 13:55 WIB

Gilang Widya Pramana
Gilang Widya Pramana instagram.com/juragan_99

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Buntut tragedi Stadion Kanjuruhan, PSSI memutuskan untuk menghentikan kompetisi Liga 1 selama sepekan.

Selain itu, Arema FC dijatuhi sanksi tidak menjadi tuan rumah di sisa kompetisi musim ini.

Dalam wawancara Kompas TV, Presiden Arema FC, Gilang Widya Pramana mengaku menerima sanksi tersebut. Sementara ini, ia ingin fokus pada upaya penyelamatan korban dan menyantuni keluarga korban yang meninggal dunia.


Juarai Trofeo Bhayangkara 2017, Arema : Pertandingan Sesuai Dengan Harapan

“Terkait sanksi yang pasti kami menerima sanksi dari komdis, karena fokus kita sekarang adalah pendataan para korban, kemudian bantuan untuk korban yang mengalami luka, lalu santunan untuk korban yang meninggal dunia,” kata Gilang.

Gilang tak menampik bila sanksi yang diterima Arema FC sangat memberatkan, terutama soal pelarangan laga kandang. Adapun alasannya nihilnya pemasukan dari tiket hingga komplain sponsor.

“Sanksi tidak bisa bermain home (di Malang) sangat memberatkan, pertama karena kita tidak bisa mendapat pemasukan dari tiket. Kedua, sponsor pasti akan komplain karena ketika kita bermain di laga home, banyak sekali aktivasi dan kegiatan di sana (Stadion Kanjuruhan). Dan ketiga, ketika kita bermain home, biasanya kita punya pemain kedua belas (suporter) yang menjadi semangat ekstra,” ujar pria yang dikenal sebagai Juragan 99 itu.

Sebagai informasi, kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, terjadi usai kekalahan 2-3 Arema FC versus Persebaya, Sabtu (1/10) malam.

Turunnya suporter ke lapangan direspons polisi dengan menembakkan gas air mata. Tak hanya ke lapangan, tembakan diarahkan ke tribun penonton. Hal itu memicu kepanikan suporter.

Suporter berusaha keluar agar untuk menghindari dampak gas air mata. Namun, pintu beberapa tribun tiba-tiba ditutup sehingga suporter saling berdesakan.

Tak sedikit dari mereka yang terinjak-injak dan mengalami sesak napas. Kejadian ini mengakibatkan banyak orang pingsan dan meninggal.

Menurut data Polri, 125 orang meninggal dunia, sementara data Dinas Kesehatan Jatim menyatakan 131 orang meninggal.

Yuk, Ikutan Kuis Silver Queen Share Your Love!

Halaman: 
Penulis : Iskandar