logo


MUI: Pernikahan Beda Agama Tidak Sah dan Haram

Cholil mengatakan bahwa ada larangan terkait perkawinan beda agama.

26 September 2022 17:13 WIB

Cholil Nafis
Cholil Nafis twitter.com/cholilnafis

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis, memberi keterangan sebagai ahli dalam sidang judicial review terkait pernikahan beda agama di Mahkamah Konstitusi (MK). Cholil mengatakan bahwa pernikahan beda agama tidak sah.

"Saya tegaskan para ulama di organisasi Islam Indonesia sepakat bahwa pernikahan beda agama tidak sah dan haram," kata Cholil dalam keterangan tertulis, Senin (26/9).

Cholil merujuk ke Pasal 10 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM dan Pasal 2 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Cholil mengatakan bahwa ada larangan terkait perkawinan beda agama.


Deddy Corbuzier Hapus Video soal LGBT, Ketua MUI: Itulah Taubatnya

"Kompilasi Hukum Islam, pasal 4, 'Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai UU Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 40 menyebut, dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu; seorang wanita yang tidak beragam Islam'," ujar Cholil.

Cholil kemudian membeberkan ayat Alquran mengenai pernikahan. Cholil lali menyertai penjelasan tersebut dengan hadis.

"Adapun sebab turun ayat 221 ini, dari al-Muqatil bahwa Ibnu Abi Martsad al-Ghanawi yang meminta izin kepada Nabi SAW. Untuk menikahi anak seorang wanita Quraisy yang musyrikah. Sedangkan Ibnu Abi Martsad Muslim, Rasulullah SAW melarang menikahinya. Lalu turunlah ayat ini," ujar Cholil.

"Ibnu Katsir mengharamkan orang mukmin menikah dengan orang musyrikah yang menyembah berhala. Lalu ayat ini menggeneralisir hukum haramnya menikah dengan orang musyrik dari kitabiyah n watsaniyah. Tetapi mengecualikan pernikahan muslim dengan kitabiyah dengan dalil al-Maidah ayat 5," sambung Cholil.

MUI DKI Bentuk Mujahid Cyber, PBNU: Tujuan Politis Harusnya Dihindari

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata