logo


Kritik Penetapan Tersangka MAH Terkait Bjorka, Pakar: Pak Polisi Belajar Hukum dan Baca Buku Apa?

Pakar berpendapat bahwa polisi seharusnya memproses hukum pelaku utama sebelum mengadili terduga pelaku pembantu kejahatan

18 September 2022 07:48 WIB

Ilustrasi Peretas Komputer atau Hacker
Ilustrasi Peretas Komputer atau Hacker Global Times

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Gandjar Laksmana mengaku heran dengan penetapan pemuda Madiun, Muhammad Agung Hidayatullah (MAH) sebagai tersangka kasus dugaan peretasan oleh hacker Bjorka. Ia mempertanyakan dasar hukum yang digunakan oleh polisi.

"Pak polisi belajar hukum dan baca buku apa ya? Koq bisa-bisanya MAH ditetapkan sebagai tersangka sebagai pembantu peretas Bjorka?" Gandjar di Twitter pribadinya, @gandjar_bondan yang dilihat Minggu (18/9/2022).

Gandjar lantas mengutip Pasal 56 KUHP terkait konsep pembantuan dalam hukum pidana. Ia mengatakan bahwa bantuan yang dimaksud yakni bantuan yang diberikan secara sengaja. Si pembantu, kata dia, mengetahui bahwa orang yang dibantunya akan atau sedang melakukan kejahatan.


MAH Ditetapkan sebagai Tersangka, Akui Salah Jual Akun Telegram ke Bjorka

"Nah, sekarang merujuk ke keterangan dari Polri: MAH adalah pembantu Bjorka. Pertanyaan pertama: tindak pidananya apa? Masak cuma bilang 'dijerat dengan UU ITE? Kalo berani menetapkan tersangka berarti sudah jelas tindak pidananya. Koq nggak diinfo? Masih cari-cari pasal? Ahhh...," ujarnya.

"Pertanyaan kedua: MAH membantu Bjorka sebelum atau pada saat kejahatan peretasan?Kalo sebelum, bentuk bantuan yang diberikan yang mana: sarana, keterangan, atau kesempatan? Kalo membantu pada saat Bjorka sedang meretas, perbuatan apa yang dia lakukan? Ahhh...," sambungnya.

Gadjar berpendapat bahwa polisi seharusnya memproses hukum pelaku utama sebelum mengadili terduga pelaku pembantu kejahatan. Ia pun meminta aparat kepolisian memperbaiki kinerjanya.

"Bayangkan kalo nanti MAH diadili sebagai pembantu kejahatan tapi kejahatan dan pelakunya sendiri tidak pernah diadili. Berarti dia membantu kejahatan yang tidak pernah dibuktikan di pengadilan. Begitukah sebuah penegakan hukum? Ahhh...," beber dia.

"Kalo yang dasar aja salah, terus gimana publik mesti percaya penanganan kejahatan yamg lebih serius seperti korupsi, narkotika, terorisme, dll? Ahhh...," lanjutnya.

 

Trauma Jadi Tersangka Terkait Hacker Bjorka, Pemuda Madiun Sebut Masih Ada yang Ngawasi

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati