•  

logo


Sebut Bjorka Terlalu Cerewet, Waketum Garuda: Banyak Pernyataan Politis Ketimbang Curi Data

Bjorka dikarbit dan diendorse melampaui dari kemampuannya.

16 September 2022 08:53 WIB

Teddy Gusnaidi
Teddy Gusnaidi radarcirebon.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Aksi hacker dengan pseudonim Bjorka tengah menjadi sorotan usai mengeklaim telah meretas banyak data krusial, seperti data registrasi SIM Card, data KPU RI, bahkan sejumlah dokumen surat menyurat milik Presiden Joko Widodo.

Menanggapi hal itu, Waki Ketua Umum Partai Garuda menilai peretasan bukan hal baru di Indonesia atau negara mana pun. Menurutnya, Bjorka bisa menyedot perhatian publik bukan karena kemampuannya, melainkan sensasi yang dibuat.

“Di Indonesia yang namanya peretas, itu banyak. Makanya tidak heran kalau ada yang diretas whatsappnya, medsosnya, emailnya, kartu kredit & banyak kejahatan lainnya. Ini bukan hal baru, Bahkan di luar negeri, data Department pertahanan Amerika saja pernah dibobol oleh anak umur 15 tahun,” tulisnya via akun Twitter @TeddGus.


DPR: Satgas Perlindungan Data Harus Bisa Selesaikan Semua Kasus Kebocoran Data

“Kemampuan hacker Bjorka yang lagi viral saat ini, jauh dari hacker yang saya sebutkan tadi, info & nomer contact yang dia dapat, itu bisa dikirimkan siapa saja ke dia, makanya ngawurnya. Menjadi ramai bukan karena kemampuannya, tapi karena sensasi yang diciptakan oleh para pemain politik,” lanjut Teddy, dikutip Jumat (16/9).

Bagi Teddy, Bjorka tak sehebat dugaan banyak orang. Ia heran dengan aksi Bjorka yang justru lebih banyak menyebar isu tanpa data.

“Bjorka dikarbit dan diendorse melampaui dari kemampuannya. Mana ada hacker menuding sana-sini tanpa data? Hacker itu menyampaikan data curian, bukan malah membuat isu tanpa data,” sindirnya.

Teddy menilai pendukung kejahatan Bjorka bisa jadi pintu masuk bagi aparat hukum untuk menelusuri. Ia membuka kemungkinan adanya pihak yang mengucurkan data pejabat negara ke Bjorka. Hal ini didasari pernyataan Bjorka yang senada dengan pernyataan pembenci pemerintah.

“Permainan ini tampak kurang rapi, karena Bjorka terlalu cerewet dan terlalu banyak membuat pernyataan politis dibandingkan dengan kemampuan mencuri data,” pungkas Teddy.

Datangi Ponpes Lirboyo untuk Minta Maaf, Eko Kuntadhi: Saya Bersalah dan Tak Ada Alasan Membenarkan

Halaman: 
Penulis : Iskandar