logo


Soal Kenaikan Harga BBM, LSI: Semacam Pil Pahit yang Harus Diterima Pemerintah

LSI menyebut pemerintah tengah dihadapkan dengan masa-masa yang sulit terkait kenaikan harga BBM

5 September 2022 07:59 WIB

Pengisian BBM di SPBU
Pengisian BBM di SPBU pertamina.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) , Djayadi Hanan mengatakan bahwa kenaikan harga BBM subsidi berisiko terhadap turunnya penilain masyarakat kepada pemerintah. Ia pun menyebut pemerintah semacam menelan pil pahit akibat kenaikan harga BBM tersebut.

"Saya kira risiko itu harus diambil oleh pemimpin, presiden. Approval rating turun, tapi itu semacam pil pahit yang harus diterima," kata Djayadi dalam rilis hasil survei secara daring, Minggu (4/9/2022).

Djayadi menyebut pemerintah tengah dihadapkan dengan masa-masa yang sulit. Pemerintah, kata dia, tidak ingin membebankan masyarakat.


Harga BBM Naik, Fadli Zon Singgung Resep Ekonomi Neoliberal

Namun disisi lain, pemerintah harus menaikan harga BBM demi menjaga perekonomian negara dalam jangka panjang. Ia pun mengibaratkan pemerintah mundur satu langkah untuk maju sepuluh langkah.

"Yang lebih dipikirkan adalah bagaimana caranya agar masyarakat tetap bisa daya belinya tidak turun terlalu jauh, tapi APBN tidak mengalami kesulitan yang menimbulkan kita tidak bisa menjalankan program-program kenegaraan yang lebih jauh," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyebut keputusan pemerintah yang bakal memberikan bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat bawah yang terdampak kenaikan harga BBM merupakan mitigasi yang tepat.

Soal Kenaikan Harga BBM Subsidi, Fahri Hamzah: Tak Akan Pernah Diterima Rakyat Sampai Kiamat

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati