logo


AS Minta Warganya di Luar Negeri untuk Tingkatkan Kewaspadaan, Ada Apa Ini?

Kementerian Luar Negeri AS khawatir tindak kekerasan terhadap warga AS di luar negeri meningkat pasca terbunuhnya pimpinan Al Qaeda

3 Agustus 2022 21:28 WIB

Masyarakat New York berkumpul di Central Park untuk bersosialisasi
Masyarakat New York berkumpul di Central Park untuk bersosialisasi RT.com

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Pemerintah AS khawatir dengan meningkatnya potensi tindak kekerasan terhadap warga Amerika Serikat di luar negeri, setelah militer AS melancarkan serangan udara di Kabul, Afghanistan pada akhir pekan lalu, yang menewaskan pimpinan kelompok teroris Al Qaeda, Ayman al Zawahiri.

Peringatan yang dirilis pada Selasa (2/8) malam oleh Departemen Luar Negeri AS berbunyi bahwa "informasi saat ini menunjukkan bahwa organisasi teroris terus merencanakan serangan teroris terhadap kepentingan AS di berbagai wilayah di seluruh dunia."

Menurut dokumen itu, “serangan-serangan ini dapat menggunakan berbagai taktik termasuk operasi bunuh diri, pembunuhan, penculikan, pembajakan, dan pengeboman.”


Rusia Kecam Kunjungan Ketua DPR AS ke Taiwan

“Warga AS sangat didorong untuk menjaga tingkat kewaspadaan yang tinggi dan mempraktikkan kesadaran situasional yang baik saat bepergian ke luar negeri,” lanjutnya.

Sebelumnya, Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa Sabtu akhir pekan lalu, AS "berhasil menyelesaikan serangan udara di Kabul, Afghanistan yang menewaskan" al-Zawahiri.

Biden juga menekankan bahwa keberhasilan operasi kontraterorisme memastikan bahwa Afghanistan "tidak akan pernah lagi ... menjadi tempat perlindungan teroris karena [Zawahiri] sudah tiada."

Dia menggambarkan pemimpin al-Qaeda sebagai pribadi, yang “mengukir jejak pembunuhan dan kekerasan terhadap warga Amerika, anggota layanan Amerika, diplomat Amerika, dan kepentingan Amerika.”

Al-Zawahiri diketahui mengambil alih Al Qaeda setelah kematian Osama Bin Laden pada tahun 2011. Keduanya bersama-sama merencanakan serangan teroris 9/11 yang terjadi pada tahun 2001 di New York Amerika Serikat, yang merenggut nyawa hampir 3.000 orang.

Rusia Undang Junta Militer Myanmar Hadir di Forum Ekonomi Timur

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia