logo


China Belum Siap Ikut Perjanjian Nuklir New START dengan Rusia dan AS

Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa jumlah persenjataan nuklir China saat ini masih jauh lebih rendah dibandingkan Rusia dan AS

2 Agustus 2022 20:15 WIB

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying. AP/Ng Han Guan

BEIJING, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying pada Selasa (2/8) mengatakan bahwa Beijing belum siap untuk berpartisipasi dalam diskusi mengenai kebijakan New START, Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis antara Amerika Serikat dan Rusia. Menurutnya, persenjataan nuklir China saat ini masih jauh lebih rendah dari kedua negara tersebut.

"Persenjataan nuklir China tidak dalam skala AS. Tidak adil dan tidak rasional meminta China untuk bergabung dengan proses perlucutan senjata multilateral pada tahap ini," kata Hua dalam sebuah konferensi pers di Beijing, dikutip Sputniknews.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa Washington siap untuk segera memulai diskusi dengan Rusia dan China mengenai sistem pengendalian senjata baru yang akan menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (New START), yang akan berakhir pada 2026.


Dubes China Beri Peringatan Keras terhadap Rencana Kunjungan Ketua DPR AS ke Taiwan

Namun, wakil kepala Dewan Keamanan Rusia dan mantan presiden Dmitry Medvedev bereaksi skeptis terhadap proposal AS. Ia mencatat bahwa "dunia telah berubah". Dia juga menyatakan bahwa situasi global jauh lebih buruk daripada selama Perang Dingin.

Perjanjian New START, yang ditandatangani kembali pada tahun 2010, adalah perjanjian pengurangan senjata nuklir antara Moskow dan Washington, yang bertujuan untuk mengurangi separuh jumlah peluncur rudal nuklir strategis kedua negara. Perjanjian itu akan berakhir tahun lalu, namun, AS dan Rusia sepakat untuk memperpanjang perjanjian itu selama lima tahun lagi tanpa menegosiasikan kembali persyaratannya.

Kesepakatan yang sekarang akan berakhir pada 5 Februari 2026 itu merupakan satu-satunya perjanjian pengendalian senjata diantara kedua negara yang masih berlaku.

Soal Rencana Kunjungan Ketua DPR AS ke Taiwan, Washington Minta China Tak Lakukan Tindakan Provokasi

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia