logo


Soal Konflik Serbia-Kosovo, Rusia: Ini Sangat Berbahaya

Seorang senator Rusia mengatakan bahwa pihaknya siap memberi dukungan bagi Serbia jika perselisihan dengan pemerintah Kosovo berubah menjadi pertempuran

2 Agustus 2022 13:23 WIB

Serbia-Kosovo
Serbia-Kosovo istimewa

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Senator Rusia, Vladimir Dzhabarov, mengatakan bahwa jika ketegangan antara Serbia--Kosovo berubah menjadi konflik, maka Rusia siap membantu Belgrade dari belakang, tanpa memainkan peran secara langsung.

“Ini sangat berbahaya, kawasan itu adalah pusat Eropa, dan semuanya bisa berakhir dengan cara yang sangat menyedihkan, karena pasukan NATO ditempatkan di sana (di Kosovo),” kata anggota Dewan Federasi Rusia Vladimir Dzhabarov dalam sebuah wawancara dengan kantor berita RIA Novosti pada hari Senin (1/8).

Menurutnya, situasinya “dapat berakhir dengan konflik bersenjata, dan segera setelah negara-negara NATO masuk ke sana, tentu saja, ada bahaya bahwa negara-negara lain yang merupakan sekutu Serbia akan ikut terlibat.”


Kapal Selam yang Diperoleh Australia dari AUKUS Tak Akan Dilengkapi dengan Senjata Nuklir

Pernyataan tersebut ia lontarkan sebagai tanggapan atas perseteruan antara Serbia dan provinsi yang memisahkan diri, yang secara resmi disebut Provinsi Otonom Kosovo dan Metohija. Kedua provinsi tersebut diakui sebagai negara Kosovo oleh beberapa kekuatan Barat pada 2008.

Perseteruan terjadi setelah pemerintahan di Kosovo berencana untuk melarang penggunaan pelat nomor dan dokumen identitas yang diterbitkan Serbia mulai 1 Agustus 2022.

Pemerintah Serbia menyebut kebijakan itu sebagai serangan terhadap etnis minoritas Serbia di Kosovo, dan Presiden Aleksandar Vucic menuduh pemerintah Kosovo melanggar hak-hak warga Serbia setempat. Meski menawarkan kesempatan untuk perdamaian, Vucic juga memperingatkan bahwa pemerintahnya tidak akan tinggal diam jika etnis Serbia yang tinggal di Kosovo menjadi sasaran serangan.

Kosovo telah membantah jika mereka berusaha melakukan tindakan keras terhadap etnis Serbia dan menuduh pejabat Belgrade sudah merusak "aturan hukum" di wilayah mereka.

Perdana Menteri Albin Kurti menuduh orang-orang Serbia setempat yang menembaki polisi, dan mengklaim pemerintahnya menghadapi “chauvinisme nasional Serbia” dan “informasi yang salah” dari pemerintahan di Belgrade.

China Minta Semua Pihak untuk Tak Jatuhkan Sanksi Tambahan bagi Korea Utara

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia