logo


Krisis Energi adalah Harga untuk Akhiri Pengaruh Rusia di Uni Eropa

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa mengatakan bahwa kebijakan sanksi pada akhirnya akan melemahkan ekonomi Rusia, meski hal itu juga memicu terjadinya krisis energi di Uni Eropa

5 Juli 2022 17:00 WIB

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell the Guardian

BRUSSELS, JITUNEWS.COM - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Joseph Borrell, mengatakan bahwa krisis energi yang saat ini tengah terjadi di Eropa adalah harga yang harus dibayar oleh blok tersebut untuk “mempertahankan demokrasi” dan mengakhiri pengaruh Rusia terhadap pengambilan keputusan politik di Brussel.

“Pada akhir 2022, kami akan mengurangi impor minyak Rusia hingga 90 persen, dan dengan cepat mengurangi impor gas. Keputusan ini secara bertahap membebaskan kita dari ketergantungan yang telah lama mempengaruhi keputusan politik kita…Tentu saja, pengurangan ketergantungan yang cepat pada energi Rusia ini juga menciptakan kesulitan serius bagi banyak negara Uni Eropa dan berbagai sektor kegiatan ekonomi. Tapi ini adalah harga yang harus kita bayar untuk membela demokrasi dan hukum internasional kita, dan kita mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini dalam solidaritas,” tulis diplomat itu dalam sebuah artikel opini yang dirilis oleh surat kabar Italia La Stampa pada hari Senin (4/7).

Borrell menyatakan keyakinannya bahwa sanksi pada akhirnya akan membuat Moskow jatuh dan memaksanya untuk “mengubah perhitungan strategisnya,” bahkan jika ini tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.


Curiga Bawa Gandum Curian, Ukraina Minta Turki Tahan Kapal Kargo Rusia

"Mereka akan dipaksa mengimpor banyak produk dengan nilai tambah tinggi yang tidak dihasilkannya. Untuk teknologi maju, ketergantungan mereka adalah 45 persen di Eropa, 21 persen di Amerika Serikat, dan hanya 11 persen di Asia,” tambahnya.

“Di sektor militer, yang sangat penting dalam konteks konflik di Ukraina, kebijakan sanksi membatasi kemampuan Rusia untuk memproduksi rudal presisi seperti Iskander dan Kh-101. Hampir semua produsen mobil asing juga telah memutuskan untuk menarik diri dari Rusia dan beberapa mobil yang diproduksi oleh perusahaan Rusia akan dijual tanpa airbag atau transmisi otomatis…Industri minyak menderita tidak hanya karena ditinggalkannya operator asing, tetapi juga sulitnya mengakses teknologi canggih seperti pengeboran horizontal,” tukasnya.

Terjerat Kasus Narkoba di Rusia, Pebasket Wanita AS Minta Presiden Joe Biden Bebaskan Dirinya

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia