logo


Perlu Waktu Lebih dari 3 Tahun bagi Uni Eropa untuk Gantikan Pasokan Gas Rusia

Uni Eropa diperkirakan akan membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk mencari pemasok gas jika Rusia secara mendadak berhenti mengirim gas kepada mereka

29 Juni 2022 20:15 WIB

Perusahaan gas Rusia, Gazprom
Perusahaan gas Rusia, Gazprom istimewa

NEW YORK, JITUNEWS.COM - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch, pada Selasa (28/6) memperkirakan bahwa Uni Eropa perlu waktu lebih dari tiga tahun untuk mencari pemasok gas selain dari Rusia jika Moskow secara tiba-tiba menghentikan pasokan gas-nya ke benua itu.

“Penghentian mendadak bukanlah kasus dasar Fitch, tetapi merupakan risiko. Bulgaria dan Polandia telah terputus dan pasokan ke anggota Uni Eropa lainnya telah berkurang. Kendala pasokan dan infrastruktur ini berarti bahwa Uni Eropa membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk mengimbangi hilangnya pasokan gas Rusia secara penuh,” kata badan tersebut dalam situs resminya, dikutip RT.com.

Badan tersebut memperingatkan bahwa jika pasokan Rusia berhenti, negara-negara Uni Eropa “akan menghadapi kejutan makro yang signifikan,” yang mencakup pertumbuhan ekonomi negatif dan inflasi yang lebih tinggi.


Korut Sebut AS, Jepang dan Korsel Ingin Bentuk NATO versi Asia

Badan tersebut memperkirakan Slovakia, Hongaria, dan Republik Ceko menjadi yang paling rentan terhadap pemutusan pasokan gas Rusia secara mendadak itu, karena mereka paling bergantung pada gas Rusia mengingat tidak memiliki banyak sumber alternatif. Sementara itu, Polandia, Lithuania, dan Rumania kurang lebih masih aman, karena mereka sebagian besar telah mendapatkan pasokan alternatif atau memiliki produksi dalam negeri.

Pada bulan April, Bulgaria, Polandia, dan Finlandia menolak untuk mematuhi mekanisme pembayaran gas berbasis mata uang rubel yang ditetapkan oleh pemerintah Rusia. Penolakan itu menyebabkan perusahaan raksasa energi Rusia, Gazprom, berhenti mengirimkan pasokan gas kepada negara-negara itu. Awal bulan ini, Gazprom juga mengurangi volume pengiriman gas melalui pipa gas Nord Stream ke Jerman hampir 60%, dengan alasan masalah teknis terkait kebijakan sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara barat.

Putin Janji "Normalkan" Situasi di Afghanistan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia