logo


Terus Berdayakan Perempuan, Sederet Perusahaan Ini Berhasil Sabet Penghargaan HerStory WECA 2022

Cek Daftarnya di sini!

28 Juni 2022 11:12 WIB

Clara A. Sukandar
Clara A. Sukandar Dok. HerStory

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Beauty, pemberdayaan perempuan terutama dalam bidang ekonomi masih merupakan tantangan panjang di Indonesia. Upaya pemerataan gender baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta yang pada gilirannya mempengaruhi inklusivitas pembangunan bangsa, masih harus dilanjutkan dan selayaknya diintensifkan.

Hal ini bukan hanya sekedar untuk pemenuhan program gender, namun atas dasar kesetaraan, keadilan, dan keterbukaan kesempatan yang tak mengenal jenis kelamin. Oleh karenanya, pemberdayaan perempuan yang telah digalakkan ini sudah seharusnya diapresiasi.

Dan, sebagai sebuah media perempuan, HerStory.co.id pun memberikan apresiasi bagi perusahaan atau organisasi yang memiliki program pemberdayaan perempuan yang akuntabel. Apresiasi tersebut dalam wujud penghargaan yang berjudul Herstory Women Empowerment Companies Award (WECA) 2022: Equal Opportunity, Equal Progress.

Pada penghargaan Herstory Women Empowerment Companies Award 2022: Equal Opportunity, Equal Progress kali ini, tim peneliti HerStory melakukan riset dan penilaian untuk mendapatkan kandidat-kandidat pemenang dengan program pemberdayaan perempuan terbaik.

Tim peneliti HerStory pun mengklasifikasi dan mengeliminasi perusahaan berdasarkan kategori usaha menurut klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia atau KBLI 2022, merupakan revisi dari KBLI 2015 dan tercatat di sistem online single submission (OSS) Kementerian Investasi.

Adapun, indikator penilaian yang digunakan sebagai parameter untuk menentukan penghargaan yang sesuai untuk setiap kandidat, yaitu kepemimpinan, tempat kerja inklusif gender, peran perusahaan untuk membangun ekonomi perempuan di masyarakat, penggunaan teknologi digital untuk mempromosikan kesetaraan, transparansi dan pelaporan.

Pemimpin Redaksi HerStory, Clara A. Sukandar, memaparkan bahwa kesetaraan gender yang belum merata di Indonesia dibuktikan dengan data dari hasil riset World Economic Forum. Menurutnya, dari 156 negara yang diteliti, rupanya Indonesia berada di peringkat 101. Asdapun, indikator penilaiannya meliputi partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikannya, kesehatan dan kelangsungan hidup, dan juga pemberdayaan politik

“Jadi, masih ada beberapa tantangan yang harus kita sama-sama hadapi untuk mencapai kesetaraan gender di Indonesia. Yang pertama, partisipasi perempuan dalam sistem politik ternyata di Indonesia masih sangat rendah, kemudian juga partisipasi dan kesetaraan gender di sektor pekerjaan memburuk akibat adanya pandemi. Dan yang terakhir adalah tingkat literasi belum setara, antara perempuan dan laki-laki,” papar Clara, saat perhelatan Herstory Women Empowerment Companies Award (WECA) 2022: Equal Opportunity, Equal Progress, yang digelar secara virtual, Jumat (24/6/2022).

Lebih lanjut, Clara pun mengungkapkan bahwa ada beberapa bentuk ketidakadilan gender di ranah kerja yang terjadi di Indonesia, antara lain perbedaan upah untuk posisi yang sama, semata-mata hanya karena gender. Kemudian juga pelecehan seksual, baik oleh rekan kerja maupun atasannya. Pun, perempuan jarang mendapatkan promosi ketimbang sejawatnya yang laki-laki, padahal dapat dikatakan perempuan juga berprestasi.

“Selain itu perempuan juga mendapatkan diskriminasi, stereotip atau pelabelan negatif terhadap salah satu gender dan juga rasisme,” uajrnya.

Dikatakan Clara, salah satu bentuk ketidakadilan gender di dunia kerja lainnya adalah perbedaan upah yang diterima. Padahal, mereka baik perempuan maupun laki-laki memikul beban kerja yang sama dan berada di posisi yang sama.

“Nah, ketimpangan gender inipun semakin diperparah dengan adanya pandemi. Ternyata selama pandemi, beban kerja perempuan lebih banyak 3 kali dibandingkan laki-laki untuk mengurus pekerjaan domestik. Kemudian, perempuan juga menerima bayaran lebih rendah 35 persen jika dibandingkan laki-laki di berbagai negara. Data ini kami dapat UN Women dengan fokus penelitian secara internasional,” terangnya.

Clara juga menerangkan bahwa ada beberapa penyebab terjadinya kesenjangan gender di dunia kerja. Dan penyebabnya ini dibagi menjadi dua bagian, yakni institusional dan juga kultur. Dia bilang, perempuan banyak sekali mendapatkan diskriminasi dalam urusan pemilihan profesi karena alasan tingkat pendidikannya, karena pengalaman kerja dan juga mereka mendapatkan diskriminasi gender di bidang kerja tertentu, dan juga stigma yang masih melekat bahwa perempuan lebih tidak produktif karena harus membagi perannya menjadi seorang ibu dan juga seorang istri.

“Selain itu budaya patriarki yang masih banyak dianut oleh masyarakat Indonesia saat ini juga sangat lekat menjadi faktor adanya gap gender, masih banyak sekali masyarakat Indonesia yang memiliki prinsip bahwa perempuan harusnya mengurus rumah tangga, mengurus suami dan anak. Prinsip-prinsip inilah yang membuat orang tua menerapkan pola asuh yang berbeda antara anak perempuan dan laki-laki,” paparnya.

Karenanya, sebagai upaya untuk terus memberdayakan peran perempuan dunia kerja, Clara pun mengajak para stakeholders untuk bersama-sama mengatasi norma-norma yang sekiranya merugikan dan juga jangan ragu-ragu untuk mempromosikan karyawan perempuan selagi mereka berprestasi. Kemudian, sambung dia, perusahaan juga harus memberikan kesempatan yang sama dalam berkarir.

“Kita juga harus memastikan perlindungan hukum tentang diskriminatif, kekerasan seksual, dan juga harus sama-sama mengurangi bahkan menghilangkan pekerjaan yang tak dibayar, mengubah budaya dan praktik dalam bisnis perusahaan, serta memperkuat visibilitas dan juga representasi,” papar Clara.

Dipaparkan Clara juga, pemberdayaan perempuan sendiri adalah hal yang sangat penting. Banyak dampak positif yang dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun perusahaan. Dari segi bisnis, jika perusahaan menerapkan women empowerment, maka eonomi perusahaan pun akan menjadi lebih sehat, juga mendorong investasi yang lebih besar di masyarakat.

“Dampak positif juga dirasakan oleh pertumbuhan perusahaan dengan membuka peluang pasar baru dan memperkuat loyalitas pelanggan. Keuangan, operasional, juga akan membaik dan lebih efektif jika perusahaan menerapkan women empowerment. Dan yang terakhir perusahaan dan juga bisnis terus melahirkan talent-talent yang kuat dan juga mampu untuk terus beradaptasi di dunia kerja,” terangnya.

Di kesempatan yang sama, Justi Ariesthiawati, selaku Srikandi BUMN Bidang Pengkajian dan Pendampingan Perempuan, sekaligus Ketua Srikandi Telkom Group, menilai bahwa perempuan adalah representasi dari setengah populasi dunia. Maka artinya, perempuan adalah representasi dari setengah potensi masyarakat dunia.

Namun, kata dia, dari banyak fakta-fakta, ketidaksetaraan gender ini masih terjadi dimana-mana dan hal ini tampaknya menghambat kemajuan sosial. Wanita selalu atau masih saja kurang terwakili di semua tingkat kepemimpinan, baik itu di politik, di perusahaan-perusahaan, dll.

“Padahal perempuan itu adalah agen utama perubahan pembangunan. Tercapainya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sangat penting untuk membangun masyarakat yang adil, inklusif, sejahtera dan damai. Berdasarkan UN Suistainable Goals juga, menyatakan bahwa pemberdayaan perempuan sangat penting untuk memperluas pertumbuhan ekonomi dan memajukan perkembangan sosial,” tutur Justi.

Justi pun menyebut bahwa gender sendiri merupakan konstruksi, tren, sikap, perilaku dan atribut yang berkembang dalam masyarakat. Dan menurutnya, kontruksi ini tak seharusnya mendefinisikan apalagi membedakan secara tidak adil, baik itu kompetensi dan kapabilitas seseorang berdasarkan jenis kelamin.

Terkait upaya mencegah ketimpangan gender di tempat kerja sendiri, kata Justi, setidaknya ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan, yakni seperti meningkatkan pemberdayaan karyawan, membantu karyawan dalam mengelola stres dan mengelola konflik yang disebabkan oleh pemberdayaan peran di kantor dan keluarga, juga meningkatkan dukungan yang diberikan organisasi dan atasan, membantu meningkatkan percaya diri karyawan.

Bagaimana Cara Evaluasi Kinerja Karyawan untuk Menentukan Employee Benefits yang Fair?

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata