logo


Tak Ikut Jatuhkan Sanksi Anti-Rusia, Ternyata Ini Alasan Turki Sebenarnya

Juru bicara Kepresidenan Turki mengatakan bahwa kebijakan sanksi anti-Rusia hanya akan merugikan perekonomian Turki

27 Juni 2022 11:00 WIB

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan istimewa

ANKARA, JITUNEWS.COM - Juru bicara Kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, menegaskan bahwa pemerintahan Recep Tayyip Erdogan tidak akan mengikuti langkah negara-negara barat yang menjatuhkan kebijakan sanksi terhadap Rusia atas operasi militernya di Ukraina. Ia mengatakan bahwa keputusan Turki itu dibuat berdasar pada pertimbangan ekonomi pragmatis dan “kebijakan keseimbangan”.

Dalam sebuah wawancara dengan Haberturk TV, Kalin mengatakan bahwa Ankara sedang mengejar “kebijakan keseimbangan” dalam hubungannya dengan Rusia.

“Karena kami bergantung pada sumber energi asing, kami mengembangkan hubungan dengan Rusia seperti yang kami lakukan dengan Iran,” jelasnya, mencatat bahwa Turki juga menikmati hubungan baik dengan AS dan negara-negara Barat lainnya.


Joe Biden Minta Negara G7 Kompak Lawan Rusia

“Kami tidak menjatuhkan sanksi kepada Rusia setelah perang Ukraina. Tentu saja, kita harus melindungi kepentingan negara kita,” katanya.

Menurut Kalin, menjatuhkan sanksi pada Moskow “akan lebih merugikan ekonomi Turki daripada Rusia.”

“Kami mengambil sikap yang jelas. Saat ini, orang Barat juga telah menerimanya. Mereka tidak mengatakan apapun tentang posisi Turki karena alasan geopolitik,” klaim Kalin.

Dia juga menekankan bahwa negaranya tidak mendukung kebijakan menjatuhkan sanksi pribadi terhadap pengusaha Rusia.

“Mereka yang disebut miliarder di Barat disebut oligarki ketika datang ke Rusia. Apakah tidak ada pemimpin seperti itu di AS atau Eropa?” tanya Kalin.

Kalin menjelaskan bahwa negaranya juga mengutuk tindakan Rusia ke Ukraina dan menganggap operasi militer Rusia sebagai “invasi”. Meski begitu, Kalin menekankan bahwa Turki terus berbicara dengan Ukraina dan Rusia karena “semakin lama perang (berlangsung), maka semakin tinggi biayanya.”

“Terus terang, tidak ada negara lain yang berusaha menyatukan kedua belah pihak. Ini akan menjadi contoh bahwa kerja sama dapat dilakukan pada isu-isu tertentu bahkan dalam lingkungan perang,” klaim Kalin.

Dia menekankan peran yang dimainkan Ankara dalam menegosiasikan solusi untuk masalah-masalah penting global tertentu, seperti pasokan biji-bijian dari wilayah yang dilanda konflik.

“Siapa yang akhirnya akan berbicara dengan Rusia jika semua orang membakar jembatan?” tukasnya.

AS Minta India Berhenti Beli Minyak Rusia

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia