logo


Rusia Tak Perlu Lakukan Pembicaraan soal Pelucutan Senjata Nuklir dengan AS

Mantan Presiden Rusia mengatakan bahwa Moskow tidak perlu melakukan pembicaraan soal pengurangan senjata nuklir dengan Amerika Serikat

21 Juni 2022 11:15 WIB

Kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev
Kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev britannica

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada Senin (20/6) mengatakan bahwa tidak ada gunanya melakukan pembicaraan soal pengurangan senjata nuklir dengan Amerika Serikat atau yang juga dikenal sebagai perjanjian New START dan bahwa Moskow harus menunggu sampai Amerika memohon untuk melanjutkan negosiasi.

Rusia dan Amerika Serikat, yang merupakan dua kekuatan nuklir terbesar di dunia, telah merundingkan serangkaian perjanjian pengurangan senjata nuklir strategis utama sejak Ronald Reagan berkuasa pada tahun 1981.

Namun invasi Rusia ke Ukraina telah memicu gangguan paling serius dalam hubungan antara Rusia dan Barat sejak Krisis Rudal Kuba 1962, ketika banyak orang khawatir dunia berada di ambang perang nuklir.


Iran Berniat Lanjutkan Negosiasi Pemulihan Perjanjian Nuklir

Medvedev, saat menjadi presiden dari 2008-2012, menandatangani perjanjian START (Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis) Baru pada 2010 atau pada era pemerintahan Barack Obama. Perjanjian itu diperpanjang pada Februari 2021 selama lima tahun hingga 2026.

"Sekarang semuanya adalah zona mati. Kami tidak memiliki hubungan apa pun dengan Amerika Serikat sekarang. Mereka nol pada skala Kelvin," kata Medvedev yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dewan Keamanan Rusia, dikutip Reuters.

"Tidak perlu bernegosiasi dengan mereka (tentang perlucutan senjata nuklir). Ini buruk bagi Rusia," kata Medvedev, yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Dewan Keamanan Rusia.

"Biarkan mereka berlari atau merangkak kembali dan memintanya."

Menurut Federasi Ilmuwan Amerika, Rusia dan Amerika Serikat mengendalikan sekitar 90% hulu ledak nuklir dunia, dengan masing-masing sekitar 4.000 hulu ledak dalam persediaan militer mereka.

Zelensky Sebut Afrika Sudah Digunakan oleh Rusia sebagai Sandera

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia