logo


Menko PMK Dorong Pemerataan Faskes untuk Tangani Gizi Buruk di Maluku Utara

penyebab masih tingginya angka stunting dan gizi buruk di Maluku Utara adalah fasilitas dan sarana prasana yang masih kurang memadai.

12 Juni 2022 19:07 WIB

Menko PMK, Muhadjir Effendy
Menko PMK, Muhadjir Effendy Humas Kemenko PMK

TERNATE, JITUNEWS.COM- Provinsi Maluku Utara masih menghadapi permasalahan stunting dan gizi buruk. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka prevalensi stunting balita stunting di Maluku Utara sebesar 27,5 persen. Untuk angka prevalensi stunting tertinggi yakni di Pulau Taliabu yakni sebesar 32,5 persen, sementara terendah yakni di Kota Ternate yakni 24 persen.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, salah satu penyebab masih tingginya angka stunting dan gizi buruk di Maluku Utara adalah fasilitas dan sarana prasana yang masih kurang memadai.

Diketahui, Provinsi Maluku Utara untuk rumah sakit rujukan dalam penanganan gizi buruk hanya terdapat di beberapa tempat, salah satunya di RSUD Dr. Chasan Boesoerie yang terletak di Kota Ternate.


Hadiri Dies Natalis ke-57 UNNES, Menko PMK: Infrastruktur dan SDM Kunci Utama Menuju Indonesia Emas 2024

Akan tetapi, Provinsi Maluku Utara yang memilki demografi kepulauan yang penduduknya tersebar membuat penanganan dan langkah preventif gizi buruk sulit untuk dilakukan.

"Ini kan problemnya spasial. Karena di sini kepulauan. Sekitar ratusan pulau di sini ada penghuninya. Sementara posisi rumah sakit rujukan itu di Kota Ternate dan harus mengcover seluruh pulau-pulau itu," ujar Muhadjir usai menengok penanganan anak penderita gizi buruk di RSUD Dr Chasan Boesoirie, Kota Ternate, Maluku Utara pada Minggu (12/6).

Menko PMK mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan akan mengupayakan pemerataan fasilitas kesehatan di seluruh wilayah di Maluku utara. Nantinya, dia akan mendiskusikan dengan Menteri Kesehatan untuk penambahan fasilitas rumah sakit penunjang di seluruh pulau yang ada di Maluku Utara.

"Karena itu saya kira pemerintah melalui Pak Menkes harus membuat langkah-langkah transformatif untuk Maluku Utara bagaimana supaya ada rumah sakit pendukung dari rumah sakit rujukan utama di pulau-pulau yang ada itu sehingga penanganan stunting dan gizi buruk bisa terselesaikan," jelasnya.

Selain itu, Menko PMK mengatakan, pemerintah juga akan melengkapi fasilitas dan sarana prasarana dari rumah sakit rujukan utama di Maluku Utara yang masih sangat kurang. Misalnya belum ada cathlab untuk penanganan penyakit jantung tidak bisa ditangani dan harus dirujuk di Makassar.

"Ini tentu sangat menyulitkan. Yang penting di sini adalah untuk segera meningkatkan prasarana infrastruktur sehingga rumah sakit (RSUD Dr. Chasan Boesoerie) di Ternate bisa berfungsi sebagai rumah sakit rujukan utama," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Menko PMK didampingi oleh Walikota Ternate Tauhid Soleman berkunjung dan membesuk dua anak pasien gizi buruk. Menko PMK juga memberikan paket penambahan gizi untuk ibu dan bayi. Menko PMK juga menyempatkan berolahraga dan membagikan masker kepada masyarakat di ajang car free day.

Kemudian, Menko PMK Muhadjir Effendy juga menghadiri pelantikan dan rapat kerja Pengurus Wilayah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Maluku Utara Periode 2022-2026. Dalam kesempatan itu dia berpesan kepada para pengurus agar melalui organisasi PII untuk aktif dalam mengembangkan SDM, memiliki kontribusi dalam membangun Maluku Utara, dan turut serta memajukan bangsa Indonesia.

Cek Kesiapan Venue ASEAN Para Games 2022, Menko PMK: Venue Kolam Renang Jatidiri Semarang Sudah Siap 90%

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar