logo


Rusia Khawatir dengan Pengembangan Senjata Pemusnah Massal yang Dilakukan oleh Ukraina dan AS

Menteri Pertahanan Rusia mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki bukti bahwa Ukraina dan Amerika Serikat sudah berusaha mengembangkan senjata biologi di dekat perbatasan Rusia

25 Mei 2022 16:30 WIB

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu
Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu istimewa

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan bahwa ada ancaman nyata yang ditimbulkan oleh pengembangan senjata biologi Ukraina. Ia menyebut senjata tersebut merupakan salah satu senjata pemusnah massal.

Pernyataan tersebut ia lontarkan dalam sebuah pertemuan dengan perwakilan negara anggota Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO).

Shoigu menambahkan bahwa Moskow telah memperoleh bukti yang membuktikan bahwa Kiev sudah melanggar perjanjian internasional dengan ikut serta dalam program pengembangan senjata biologis yang digagas oleh Amerika Serikat tersebut.


Jerman Tak Kunjung Kirim Tank ke Polandia, Warsawa: Anda Tak Menepati Janji

“Jaringan lebih dari 30 laboratorium biologi yang terlibat dalam program biologi militer AS telah dibuat [di Ukraina]. Dokumen menunjukkan bahwa penelitian [di laboratorium ini] dilakukan secara diam-diam yang melanggar kewajiban internasional,” katanya.

Lebih lanjut, Shoigu mengatakan bahwa komponen senjata biologis telah diproduksi di dekat perbatasan Rusia. Menurutnya, metode destabilisasi situasi epidemiologi di Rusia juga dipelajari di fasilitas laboratorium itu.

Pada kesempatan itu, Shoigu menuduh negara-negara Barat telah mengorganisir pasokan senjata mematikan kepada Ukraina, serta kampanye disinformasi global besar-besaran melawan Rusia.

Shoigu menuduh NATO juga berusaha mengubah Ukraina menjadi negara yang memusuhi Rusia, menggunakannya sebagai alat untuk menekan Moskow. Dia mencatat bahwa pada saat yang sama, negara-negara Barat menutup mata terhadap keberadaan kelompok berideologi neo-Nazisme di Ukraina, yang telah melakukan kekejaman.

Sang Menteri menyatakan bahwa Rusia akan melanjutkan operasi militer khusus di Ukraina, yang telah diluncurkan sejak akhir Februari lalu, sampai semua tujuannya tercapai.

Dia menilai bantuan Barat untuk rezim Kiev tidak akan mempengaruhi operasi militer Rusia tersebut. Shoigu juga menjelaskan bahwa pengurangan tempo operasi khusus baru-baru ini bersifat sukarela karena Rusia ingin memberi kesempatan kepada penduduk di kota-kota yang terletak di dekat garis depan untuk mengungsi melalui koridor kemanusiaan.

Ukraina Siap Bebaskan Tentara Rusia yang Dihukum Seumur Hidup jika...

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia