logo


Wamendag Ngotot Soal Sustainable Palm Oil di Parlemen Eropa

20 Maret 2014 17:44 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi didampingi wakil dari Indonesia Palm Oil Custommer Care dan petani dari Aceh dan Sumatera Utara, melakukan dialog dengan industri kelapa sawit di Uni Eropa (UE) dan debat di Parlemen Eropa mengenai minyak sawit berkelanjutan (sustainable palm oil) pada kunjungan kerja dua hari, tanggal 17-18 Maret 2014 di Brussel, Belgia.

Dalam siaran pers Kementerian Perdagangan, Kamis (20/03), Bayu menegaskan bahwa minyak sawit adalah komoditas utama dan penting bagi perekonomian Indonesia. Sehingga, Indonesia dalam hal ini pemerintah sangat serius dan berkomitmen dalam menerapkan sustainable palm oil.

Lebih lanjut Bayu mengatakan,”Indonesia sudah memiliki Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yakni suatu peraturan pemerintah yang wajib diberlakukan kepada industri dan petani sawit agar memproduksi minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan melalui penerapan sertifikasi.

"Melalui implementasi ISPO, tambah Bayu, Pemerintah Indonesia menunjukkan dukungan akan pentingnya produksi minyak sawit yang berkelanjutan. Selain ISPO, ada lagi sistem sertifikasi lainnya seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang diterapkan sejak 2004. Rencananya, Pemerintah RI akan bekerja sama dengan RSPO untuk menyusun kesesuaian standar yang dapat dijadikan acuan standar global mengenai minyak sawit berkelanjutan.

Konsumen minyak sawit, terutama di UE menginginkan minyak sawit yang berkelanjutan,  karena perkebunan kelapa sawit dituding sebagai penyebab utama dari deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Hal ini diperburuk dengan minimnya informasi yang tepat dan pengetahuan masyarakat akan manfaat minyak sawit bagi kesehatan.

“Kita harus dapat memberikan informasi yang akurat untuk menanggapi tudingan tersebut, sehingga kami menggulirkan gagasan perlunya Indonesia - UE melakukan joint research di Indonesia. Yang tidak kalah penting adalah memberikan pemahaman dan edukasi kepada industri dan konsumen minyak sawit. Kementerian Perdagangan akan bekerja sama dengan instansi terkait lainnya melaksanakan consumer campaign di negara-negara konsumen utama minyak sawit,” imbuh Bayu.

Di balik segala upaya yang dilakukan oleh negara produsen minyak sawit untuk menjamin produksi minyak sawit berkelanjutan, masih saja minyak sawit, khususnya minyak sawit dari Indonesia mengalami tantangan di pasar UE. Minyak sawit tetap menjadi sorotan utama dikaitkan dengan isu keberlanjutan.

"Kami tegaskan rencana kebijakan biofuel di Indonesia, yang akan memprioritaskan konsumsi minyak sawit sebagai biofuel di dalam negeri apabila minyak sawit terus mendapatkan tantangan masuk ke pasar UE,” tambah Bayu.

Sementara itu, untuk menanggapi perlakuan diskriminatif terhadap minyak sawit, Bayu mengusulkan agar dikembangkan tidak hanya sustainable palm oil, tetapi juga sustainable vegetable oil, bagi semua jenis minyak nabati termasuk rapeseed, minyak kedelai, minyak zaitun, minyak biji matahari, dan minyak nabati lainnya.

Usulan tersebut akan ditindaklanjuti pada pertemuan Working Group on Trade and Investment (WGTI) antara Indonesia dan Uni Eropa yang akan dipimpin oleh Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo, pada 20 Maret 2014 di Komisi Eropa. Indonesia akan kembali mengajak UE untuk memperkuat kerja sama melalui jalur government to government, government to business, dan business to business.

Sebanyak dua petani sawit dari Aceh dan Sumatera Utara yang berpartisipasi pun, turut memberikan testimoni keberhasilannya meningkatkan taraf kehidupan sejak menjadi petani sawit. Hal ini memperoleh tanggapan positif dan membuktikan bahwa kelapa sawit dapat membantu mengentaskan kemiskinan.

 

Produksi Minyak Turun Akibat Kabut Asap di Riau

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya, Tommy Ismaya
 
xxx bf videos xnxx video hd free porn free sex