logo


Saham GoTo Anjlok di BEI, PDIP: Efek Keseringan Main Skema Predatory Pricing

Anjloknya nilai saham GoTo, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan yang dialami Bukalapak beberapa waktu lalu.

22 April 2022 16:01 WIB

Pengemudi Gojek.
Pengemudi Gojek. Dok. Jitunews

JAKARTA, JITUNEWS.COM -  Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto menduga, anjloknya nilai saham PT Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena ekspansi bisnis yang mereka lakukan terlalu berlebihan.

Anjloknya nilai saham GoTo, menurutnya, tidak jauh berbeda dengan yang dialami Bukalapak beberapa waktu lalu. Diketahui, nilai saham GoTo anjlok hingga level Rp338.

"Sejak awal melantai di bursa nilai saham Bukalapak kala itu ada di kisaran Rp850. Namun per Maret 2022 nilai saham mereka tergerus hingga 69,65% atau nilai sahamnya dikisaran harga Rp372," kata Darmadi d Jakarta, Jumat (22/4/2022).


Dukung Presiden Larang Kabinet Bicara Penundaan Pemilu, DPR: Topik Pemulihan Ekonomi Lebih Penting

Jadi, anjloknya nilai saham dua raksasa e-commerce itu, kata dia, karena keduanya yakni GoTo dan Bukalapak diduga sama-sama mengedepankan skema predatory pricing dalam menjalankan bisnisnya.

"Q3 2021 Bukalapak rugi 1.1T. Akibat bakar-bakar uang dan diduga melakukan predatory pricing (rusak harga pasar). Nilai saham Bukalapak juga anjlok kala itu, turun drastis nilai sahamnya. Saya menduga skema predatory pricing inilah yang menyebabkan nilai saham kedua e-commerce itu anjlok," ungkapnya.

Politisi PDIP ini juga memandang, jatuhnya nilai saham GoTo karena struktur dan fondasi keuangan mereka rapuh.

"Terlihat dari saham mereka enggak bisa bertahan. Kalau pun naik pasti karena digoreng. Saya kira ruginya besar 2 pemain tersebut. Patut diduga anjloknya saham mereka itu karena efek keseringan memainkan skema predatory pricing," ungkap Politikus PDIP itu.

Selain itu, Darmadi menduga, faktor ketidakjujuran dalam menjalankan bisnis jadi salah satu indikator saham mereka rontok.

"Penjualan yang tertera tidak mencerminkan penjualan sesungguhnya," tandasnya.

Darmadi mengungkapkan, akibat perilaku bisnis yang mereka jalankan selama ini juga berdampak negatif terhadap kondisi pasar dalam negeri.

"Akibat perilaku bisnis mereka, sudah banyak pemain tradisional yang rata-rata masih offline sudah bangkrut. Terutama para Pemain UMKM kebanyakan yang terimbas perilaku bisnis mereka," terangnya.

Terakhir, Darmadi mengingatkan agar masyarakat atau Investor lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian saham-saham milik e-commerce.

Sebab, menurutnya, jika berkaca pada dua kasus tersebut di atas nilai saham yang mereka tawarkan terlihat rapuh dari sisi fondasinya.

Dan tidak tertutup kemungkinan, kata Darmadi kembali mengingatkan, e-commerce lainnya pun akan melakukan skema penawaran saham yang sama seperti yang ditawarkan dua e-commerce sebelumnya yakni GoTo dan Bukalapak.

"Ke depan harus hati-hati membeli saham e commerce yang kabarnya siap mau IPO diantaranya seperti JD.id yang saya duga sedang mempercantik market valuasinya," pungkasnya.

Sekedar informasi, dikutip dari RTI, Kamis (21/4/2022), per pukul 12.49 JATS, harga saham GOTO berada pada level Rp 338 per saham. Artinya, harga Saham GOTO saat ini turun hingga kembali pada harga IPO atau harga saham sejak pertama kali mereka luncurkan.

Dukung Jokowi soal Menteri Dilarang Bahas Penundaan Pemilu, PD: Harusnya Sejak Awal

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar