logo


Bantah Soal Wanita Gak Bisa Berkarier, HerStory Kupas Tuntas Lewat Webinar Breaking the Glass Ceiling: Women Leaders on Economic Empowerment  

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Bintang Puspayoga sebut perlindungan dan pemenuhan hak yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia telah diamanatkan dalam UUD 1945

20 April 2022 11:24 WIB

Webinar HerStory bertajuk Breaking the Glass Ceiling: Women Leaders on Economic Empowerment pada Senin (18/4/2022).
Webinar HerStory bertajuk Breaking the Glass Ceiling: Women Leaders on Economic Empowerment pada Senin (18/4/2022). Rilis HerStory

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketika berbicara tentang ekonomi dan melihat fenomena di Indonesia bahwa dunia kerja masih didominasi oleh kaum pria. Di samping itu, para wanita sering kali menemukan kesulitan untuk bisa menduduki posisi atau jabatan strategis yang lebih tinggi. Untuk itu, hal tersebut biasanya disebut dengann fenomena glass ceiling atau atap kaca. Sementara itu, para pria akan memperoleh kemudahan dalam menduduki posisi strategis di perusahaaan atau organisasi.

Selain itu, wanita juga mendapatkan tuntutan atau peran domestik di rumah, yang beberapa orang beranggapan bahwa hal ini ‘menghambat’ para wanita untuk berkarier. Namun, fenomena ini terbantahkan oleh beberapa narasumber yang hadir dalam acara Webinar HerStory bertajuk Breaking the Glass Ceiling: Women Leaders on Economic Empowerment pada Senin (18/4/2022).

“Kenaikan pertumbuhan ekonomi belum setara dengan angka ketimpangan gender. Pasalnya, angka ketimpangan gender masih tinggi di Indonesia, meskipun angkanya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun,” kata Clara Aprilia Sukandar selaku Pemimpin Redaksi HerStory.co.id.


Penting! Wanita Karir Harus Tetap Aktif Bergerak

“Berdasarkan data dari BPS, indeks ketimpangan gender (IKG) dan data gender Inequality Index (GII) dari UNDP, ketimpangan gender masih terjadi karena kelompok penduduk pria dan wanita belum memiliki akses yang sama atau setara untuk berperan dalam pembangunan. Indikator ini diukur dari aspek kesehatan, peemberdayaan, serta akses dalam pasar tenaga kerja,” lanjutnya.

Clara juga menjelaskan bahwa dalam ekonomi, glass ceiling merupakan metafora yang mengacu pada situasi di mana kemajuan orang yang sejatinya memenuhi syarat dalam hierarki organisasi dibatasi pada tingkat yang lebih rendah karena beberapa bentuk diskriminasi, paling umum seksisme atau rasisme. Fenomena glass ceiling umumnya terjadi pada perempuan dan kelompok minoritas lain, seperti orang dengan disabilitas.

Bintang Puspayoga selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI yang turut hadir dalam Webinar HerStory mengungkapkan bahwa perlindungan dan pemenuhan hak yang setara bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk perempuan dan anak telah diamatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.

“Menurut analisa dari ILO pada Juni 2020, secara rata-rata, laki-laki di Indonesia memiliki pendapatan 20% sampai 23% lebih besar dari wanita Indonesia. Faktor yang memperburuk kesenjangan di Indonesia bukanlah disebabkan karena kemampuan dan pendidikan antara wanita dan pria, melainkan karena pandangan terhadap pembagian peran yang dapat dilakukan oleh wanita dan pria yang merupakan dampak dari adanya diskriminasi,” ujar Bintang Puspayoga.

Di saat yang sama, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Dr. Lucia Rizka Andalusia menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk melakukan transformasi sistem kesehatan, yaitu transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan, transformasi teknologi kesehatan.

“Para wanita Indonesia berperan dalam penanggulan masalah kesehatan. Di awal pandemi dan di saat pandemi, kami berupaya untuk mendapatkan obat-obatan, memenuhi kebutuhan vaksin, melaksanakan program vaksinasi untuk mendapatkan herd immunity bagi seluruh rakyat Indonesia,” jelas Dr. Lucia Rizka Andalusia.

“Tentunya, hal tersebut membutuhkan perjuangan yang sangat berat dan membutuhkan konsistensi untuk terus berjuang. Kami sebagai wanita Indonesia memposisikan peran kita bersama dengan tenaga kesehatan lain dengan gender yang berbeda,” sambungnya.

Rima Tanago selaku Head of Commercial Business Development PT HM Sampoerna Tbk, menjelaskan bahwa Sampoerna selalu beerkomitmen untuk memelihara praktik dan lingkungan kerja yang inklusif dan beragam, serta memperlakukan karyawan dan orang lain dengan hormat tanpa diskriminasi.

“Sampoerna percaya bahwa inclusion and diversity merupakan hal yang krusial untuk dijalankan karena membawa impact yang positif terhadap bisnis dan karyawan. Jadi, kita fokuskan pada tiga hal, yaitu dukungan untuk pengembangan karier, edukasi mengenai pentingnya inklusivitas, dan pengadaan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan gender,” tutur Rima Tanago.

Hanny Retno Hapsari Direktur Keuangan dan Administrasi PT Elnusa Petrofin memberikan beberapa tips agar wanita Indonesia berani untuk menunjukkan kemampuannya, yaitu mengetahui diri sendiri, mencari support system yang selalu memberikan dampak positif, membangun jejaring, mencari mentor sesuai dengan bidang masing-masing, dan investasi dalam diri sendiri.

“Kalau ingin sukses kita harus tahu diri kita sendiri, kelebihan yang bisa digali, dan mendapat dukungan dari orang terdekat. Saya dapat quotes bagus dari Sheryl Sandberg. Jadi, wanita itu harus shifting dari berpikir bahwa ‘saya enggak siap’, tapi kita harus siap dan kita harus belajar dengan melakukannya,” jelas Hanny Retno Hapsari.

Dalam acara yang sama, Dr. Inti Pertiwi Nashwari, S.P., M.Si, Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian RI, menjelaskan bahwa wanita wajib sadar bahwa mereka adalah pelaku sekaligus subyek rentan yang langsung terdampak dari berbagai permasalahan global, termasuk di sektor sosial-ekonomi pertanian.

“Selain itu, wanita juga bisa menjadi agen perubahan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut bila diberdayakan dan diberikan kesempatan yang setara. Dalam berbagai diskursus dan proses pengambilan kebijakan, sudah selayaknya memakai perspektif yang peka dan responsif terhadap gender,” tutur Dr. Inti Pertiwi Nashwari.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hampir 50% pekerja sektor pertanian di negara berkembang adalah perempuan. Namun, produktivitas mereka terbatas karena adanya hambatan struktural dan kultural terhadap akses pengetahuan, keterampilan, hingga permodalan.

Adanya tradisi di kalangan keluarga petani untuk mewariskan ilmu dan usaha tani ke generasi laki-laki membuat posisi dan pengaruh mereka lebih dominan di sektor pertanian. Padahal, wanita tani sering kalii memiliki tanggung jawab yang berat, mulai dari mengasuh anak, mengerjakan urusan rumah tangga, sekaligus membantu suaminya bekerja di ladang. Ironisnya, mereka kerap kali dibayar lebih rendah atau bahkan tanpa upah.

Pada dasarnya, setiap wanita bisa sukses ketika berusaha semaksimal mungkin di tengah adanya keterbatasan. Seorang feminis Maya Angelou mengatakan bahwa kita mungkin menghadapi banyak kekalahan, tapi kita enggak boleh dikalahkan.

Sebagai informasi, Webinar HerStory bertajuk Breaking the Glass Ceiling: Women Leaders on Economic Empowerment ini diselenggarakan oleh HerStory Indonesia dan dikelola oleh Quadrant 1 Komunika yang merupakan salah satu grup bisnis Warta Ekonomi.

 

Kisah Sukses Anita Feng, Pengusaha Cantik dengan Pencapaian Mempesona

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati