logo


Ribut Soal Kenaikan Harga BBM, Praktisi Migas: Karena Kurang Edukasi

Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mensosialiasikan kepada masyarakat bahwa naik-turunnya harga minyak ditentukan mekanisme pasar

7 April 2022 19:47 WIB

Pakar Energi ITB,  Elan Biantoro
Pakar Energi ITB,  Elan Biantoro Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Munculnya gejolak karena kenaikan harga minyak dunia disebabkan kurangnya edukasi.

Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mensosialiasikan kepada masyarakat bahwa naik-turunnya harga minyak ditentukan mekanisme pasar

Pernyataan itu disampaikan Pengamat dan juga praktisi migas,  Elan Biantoro, dalam sesi diskusi bertema Krisis Rusia-Ukraina Mahalnya Minyak Dunia yang digelar Jakarta Journalist Center, pada Kamis (7/4/2022).


Meski Mudik Dilarang, Pertamina Pastikan Stok BBM dan LPG Selama Bulan Puasa Tetap Aman

"Selama ini kita tidak pernah mendapat sosialisasi mekanisme pasar harga (menentukan naik-turun,-red) BBM. Ini diedukasi agar masyarakat tak kaget kalau minyak naik," kata dia.

Dia menilai masyarakat Indonesia terbuai harga BBM karena disubsidi oleh pemerintah. Sehingga tidak mengantisipasi kenaikan harga BBM di pasar yang salah satunya disebabkan invasi Rusia ke Ukraina.

"Pemahaman dan pemberian informasi ini bukan karena pemerintah, karena efek global. Sementara masyarakat terbuai mekanisme harga subsidi daripada mekanisme harga pasar," kata dia.

Kementerian ESDM telah menetapkan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) Februari 2022 sebesar 95,72 dolar AS per barel. Sedangkan angka sementara ICP Maret 2022 sampai tanggal 17 sebesar 114,77 dolar AS per barel.

Jika melihat harga subsidi ini, maka ada defisit. Sehingga, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga Pertamax menjadi Rp12.500 per liter atau naik dari harga sebelumnya yang sebesar Rp9.000 per liter. Sedangkan untuk harga Pertalite tetap di 7.650

"Kalau seperti sekarang (harga minyak,-red) di atas 100 otomatis tidak bisa mengandalkan harga (subsidi,-red) dipertahankan. Naik Pertamax," ujarnya.

Untuk kenaikan harga Pertamax, dia setuju. Apalagi jika melihat selama ini Pertamax digunakan oleh pengendara mobil mewah atau kalangan masyarakat menengah ke atas.

Dia menilai harga Pertamax Rp 12.500 itu masih cukup terjangkau.

"Pertamax ke atas itu harga BBM untuk menengah ke atas. Kendaraan cukup mewah, mereka harus wajib membeli RON di atas 92. Harga naik ke Rp12.500 untuk Pertamax masih di bawah harga selayaknya melihat harga crude," kata dia.

Adapun untuk harga Solar dan Pertalite, dia meminta, kepada pemerintah agar dipertahankan. Ini dilakukan supaya tidak terjadi gejolak di pasar.

"Solar penugasan dan Pertalite dipertahankan tak naik agar tak jadi gejolak. Harga penugasan naik ada gejolak," ujarnya.

Selain itu, dia menyarankan pemerintah untuk melakukan efisiensi dan menekan konsumsi penggunaan bahan bakar minyak

"Apa yang harus dilakukan meningkatkan petforma agar cadangan minyak meningkat," tambahnya.

Soal Kenaikan Harga BBM, PKS: Kebijakan Pemerintah Harusnya Pro Rakyat

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar