logo


Pendidikan Calon Pengantin Penting untuk Cegah Stunting

Karena puncak usia produktif 2045 ditentukan oleh anak yang lahir di tahun ini

21 Maret 2022 09:36 WIB

Menko PMK, Muhadjir Effendy
Menko PMK, Muhadjir Effendy dok. Humas Kemenko PMK

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Guna menekan angka stunting dan mencetak generasi emas Indonesia tahun 2045, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan, pendidikan calon pengantin (catin) sangat penting untuk dilakukan.

Intervensi pada catin menurut Muhadjir sangat penting sebagai upaya preventif mencegah bayi stunting. Upaya itu dilakukan dengan pendidikan catin yang ditindaklanjuti pendampingan kesiapan menikah dan hamil kepada catin.

“Karena puncak usia produktif 2045 ditentukan oleh anak yang lahir di tahun ini maka kita harus tangani sungguh-sungguh,” ungkapnya saat mengisi Dialog Percepatan Penurunan Stunting di Gedung Diklat BKKBN Kabupaten Malang, Minggu (20/3).


Menko PMK Target Penurunan Stunting Kabupaten Madiun di Bawah 5%

Muhadjir mengatakan, ada tiga bekal yang harus dipersiapkan oleh calon pengantin, yaitu kesehatan reproduksi, kesehatan keluarga dan cara hidup berkeluarga, serta ekonomi keluarga. Selain itu pendidikan dan kesehatan juga harus lebih baik.

“Kalau anak sudah kita selamatkan dari stunting, dididik dengan baik dan kesehatan yang baik maka akan menjadi anak yang produktif yang berguna, khususnya untuk kepentingan negara,” ungkapnya.

Menko PMK menambahkan, jika stunting tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, maka masa bonus demografi akan terlewat dan Indonesia akan sulit untuk mencapai generasi emas 2045.

“Mereka yang terkena stunting, intervensi setelah usia itu, apapun bentuknya tidak akan optimal. Maka itu stunting sangat vital untuk pembangunan Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK Agus Suprapto mengatakan, selain pendidikan catin, penguasaan lapangan juga penting baik dari pendamping keluarga maupun pihak terkait.

“Dalam penanganan stunting mencapai angka 14 persen secara nasisonal, yang paling penting adalah penguasaan lapangan. Yakni data realitas jangan ada yang disembunyikan,” ungkapnya.

Hal itu dinilai menjadi sasaran konvergensi sumber daya di Kabupaten atau Kota. Jika penurunan stunting meningkat, maka SDM
Indonesia akan semakin membaik.

Adapun saat ini prevalensi stunting di Indonesia telah mengalami penurunan dari 27,6 persen menjadi 24,6 persen.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menargetkan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024. Untuk mengejar target itu, maka penanganan stunting pada 2 tahun ke depan harus turun sebesar 3 sampai 3,5 persen per tahun.

Dalam dialog tersebut turut hadir, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, Sekretaris Perwakilan BKKBN Jawa Timur Nyigit Widi Amini, Pengarah Konsorsium Perguruan Tinggi Jawa Timur Sri Sumarmi, Koordinator Konsorsium Perguruan Tinggi Jawa Timur Sri Rahayu.

Hadir juga PIC Konsorsium Perguruan Tingfi Jatim, Kepala DPPKB Kab. Malang, Kadinkes Kab. Malang, Kepala Bappeda Kab. Malang, Kepala BKAD Kab. Malang, serta Pendamping Keluarga dan Catin.

Wagub Jabar Minta Kab/Kota Bentuk Tim Penurunan Stunting

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan