logo


Ini Alasan Freeport 'Ogah' Bangun Smelter di Papua

Pihak Freeport memutuskan untuk tetap mengembangkan smelter di daerah Gresik, Jawa Timur.

26 Mei 2015 10:20 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - PT Freeport Indonesia (PTFI) mengungkapkan, bahwa pihaknya tidak akan membangun tempat pemurnian hasil tambang (smelter) di Papua. Pasalnya, Papua belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk turunan hasil dari smelter tersebut yang dapat mencemari lingkungan di Papua nantinya.

Dengan pertimbangan itu, Direktur Utama PTFI Maroef Sjamsuddin mengatakan, maka pihaknya memutuskan untuk tetap mengembangkan smelter di daerah Gresik, Jawa Timur.

"Smelter itu ada penilaian-penilaian teknis. Kami sudah putuskan berdasarkan tinjauan teknis dan bisnis, akan dibangun di wilayah Gresik, Jawa Timur. Karena di sana dukungan infrastruktur, air, listrik, pelabuhan ada semua," ungkap Maroef kepada wartawan di Jakarta.


Penjualan dan Produksi Batu Bara PT Bukit Asam Naik 14%

Maroef pun menjelaskan kembali alasan Freeport menolak untuk mengembangkan smelter di Papua. Nantinya, proses pemurnian mineral lewat smelter akan menghasilkan asam sulfat yang akan menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga dibutuhkan industri lanjutan yang dapat mengolah limbah berbahaya tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

"Kalau bangun smelter juga perlu diperhatikan industri lanjutan smelter. Kalau gak dikelola dengan baik akan tidak ekonomis dan menimbulkan limbah. Limbahnya asam sulfat. Kalau ada industri lanjutannya, asam sulfat ini bisa menjadi pupuk. Di Papua tidak ada," jelas Maroef.

Selain Sulfat, smelter juga akan menghasilkan limbah gypsum, yang juga masuk kedalam kategori B3. Padahal, jelas Maroef lagi, limbah gypsum tersebut dapat diolah menjadi bahan baku pembuatan semen yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Papua.

Selain itu, Maroef menambahkan, bahwa rencana Freeport yang akan melakukan pengembangan smelter di Gresik juga tidak terlepas dari rencana untuk memproduksi mineral dengan konsentrat mencapai 100%.

"Smelter di Gresik hanya menghasilkan 40 persen dari konsentrat. Padahal, pemerintah menggariskan supaya 100 persen. Sehingga, kami perlu pengembangan di Gresik," tutupnya.

Warga Desa Sungai Bemban Pertanyakan Izin Tambang Galian C

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin
 
×
×