logo


Klik! Ini Dia 5 Inovasi Teknologi Pertanian Buatan Anak Bangsa

Kami akan segera terbitkan buku 500 Teknologi Inovatif Pertanian dalam waktu dekat ini

25 Mei 2015 10:34 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM –  Tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia juga memiliki inovator dalam bidang teknologi pertanian. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, melakukan kerja sama dengan para peneliti untuk mengembangkan teknologi di sektor pertanian.  Hasilnya, berbagai macam teknologi untuk pertanian pun telah tercipta!

“Kami akan segera terbitkan buku 500 Teknologi Inovatif Pertanian dalam waktu dekat ini,” kata Agung Hendriadi, Sekretaris Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, kepada Jitunews di Jakarta. Ia mengatakan, dalam buku tersebut akan berisi seluruh penelitian yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian, mulai dari varietas baru berbagai macam tanaman, perkembangan alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan produk pertanian.

Berikut ini 5 teknologi pertanian dari berbagai inovator yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian. Kelima teknologi ini telah memeroleh lisensi dari Dirjen Hak Kekayaan Intelektual  (HKI):


Aplikasi SIPB Untuk Ketahanan Pangan, Apa itu?

1. Alat Pengering Cepat Kedelai Brangkasan

Alat yang dirancang oleh I Ketut Tastra dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian ini dapat mencegah turunnya mutu benih kedelai akibat terlambatnya proses pengeringan. Komponen alatnya, antara lain drum pemanas udara, dua kompor minyak tanah sebagai sumber panas, dan sebuah blower untuk menghisap dan menghembuskan udara panas.

Jika dibandingkan dengan alat pengering konvensional, alat ini dapat mempercepat proses pengeringan sehingga mampu menghemat waktu pengeringan dari 8 hari menjadi 1 hari. Selain itu, teknologi pengering ini juga dapat meningkatkan mutu (daya tumbuh) benih kedelai hingga mencapai 90,3%.

2. Tarikan Matrik Tanah Liat

Sistem irigasi pertanian konvensional yang memasok air melalui permukaan tanah dinilai tidak efektif, terutama pada tanah dengan tekstur berpasir. Air tanah akan tertahan dan terlindung di bawah tanah dengan tekstur berpasir tersebut. Sehingga perlu sebuah alat yang dapat menarik air dari bawah permukaan ke atas permukaan agar tersedia air bagi tanaman. Berdasarkan kondisi itu, Subowo dari Balai Penelitian Tanah merancang teknologi yang disebut tarikan matrik tanah liat.

Bentuk alat ini sangat sederhana, yaitu plumpung yang terdiri dari silinder dengan lubang-lubang vertikal maupun miring. Teknologi tarikan matrik tanah liat dapat mengatasi kendala kekurangan air bagi tanaman pada lahan dengan tekstur berpasir.

3. Instalasi Pengolah Limbah untuk Biogas, Pupuk Cair, dan Pakan Ternak

Instalasi ini dapat mengolah limbah ternak yang terbuang menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti biogas, pupuk organik cair, dan bahan pakan ternak. Selain itu, dengan menggunakan instalasi ini limbah ternak bisa terkelola dengan baik. Apabila limbah ternak tidak dikelola dengan tepat, maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan yang serius.

Perancang instalasi pengolah limbah untuk biogas, pupuk cair, dan pakan ternak adalah Suprio Guntoro dan dan 7 orang lainnya dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali.

4. Alat Irigasi Tipe Sprinkler Berjalan untuk Rumah Kaca

Alat berkonstruksi kokoh ini dirancang sesuai kebutuhan sistem irigasi di rumah kaca. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan alat ini pun dapat digunakan pada areal terbuka. Salah satu fungsinya, yaitu dapat bergerak maju-mundur untuk memberikan air dengan ukuran partikel, waktu, dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Alat irigasi tipe sprinkler berjalan untuk rumah kaca dirancang oleh Teguh Wikan Widodo bersama 4 orang lainnya dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Keunggulan alat irigasi tipe sprinkler berjalan tersebut adalah sifatnya yang fleksibel karena dapat diatur tinggi-rendahnya sehingga bisa disesuaikan dengan tinggi tanaman. Sehingga aplikasi air untuk irigasi lebih efisien.

5. Perangkat Uji Cepat Tanah Kering (PUTK)

Alat pengukur serta cairan formula kimia untuk menentukan status hara, P, K, bahan organik, pH, dan kebutuhan kapur pada lahan kering merupakan bagian dari perangkat uji cepat tanah kering (PUTK). Teknologi ini memungkinkan penyuluh lapangan atau kelompok tani untuk menganalisis unsur-unsur yang terdapat pada lahan kering. Sehingga berdasarkan analisis tersebut, mereka dapat membuat rekomendasi pemupukan untuk padi gogo, jagung, dan kedelai pada tanah kering.

Alat yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanah ini dikemas dengan praktis, mudah dibawa, dan dapat diisi ulang (re-fill).

Buwas Resmikan Teknologi Baru! Apakah Itu?

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid