logo


Lebih Mematikan daripada Covid-19, Peneliti Temukan Potensi Kemunculan Virus Corona Baru

Peneliti China memperingatkan bahwa virus NeoCov, yang memiliki keterkaitan dengan wabah MERS-Cov, kemungkinan akan mengalami mutasi sehingga bisa kembali mewabah

28 Januari 2022 14:45 WIB

Ilustrasi Laboratorium Virus
Ilustrasi Laboratorium Virus istimewa

BEIJING, JITUNEWS.COM - Ilmuwan China telah mengeluarkan peringatan akan adanya potensi ancaman kematian dan tingkat penularan yang tinggi terkait dengan jenis virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan.

Virus NeoCoV bukanlah virus baru mengingat virus ini memiliki keterkaitan dengan sindrom pernapasan MERS-CoV, yang mewabah di negara-negara Timur Tengah pada 2012 dan 2015. Virus ini juga memiliki banyak kemiripan dengan SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit COVID-19 pada manusia.

Virus NeoCoV ditemukan pada populasi kelelawar di Afrika Selatan dan hingga saat ini telah menyebar di antara hewan-hewan tersebut. Namun studi baru yang dirilis dalam pracetak di situs web bioRxiv namun belum dikaji oleh pakar lain, secara tak terduga menemukan bahwa NeoCoV dan kerabat dekatnya, PDF-2180-CoV, dapat menggunakan beberapa jenis enzim pengubah angiotensin kelelawar 2 (ACE2) dan manusia ACE2 untuk masuk.


Beijing Minta AS Tak Ikut Campur dalam Sengketa Wilayah Perbatasan China-India

Para ilmuwan dari Universitas WUhan dan Institut Biofisika dari Akademi Ilmu Pengetahuan China berpendapat bahwa hanya dibutuhkan satu mutasi yang cukup bagi virus untuk dapat menyusup ke sel manusia.

Berdasarkan temuan mereka, potensi bahaya yang terkait dengan virus corona baru adalah ia mengikat reseptor ACE2 dengan cara yang berbeda dari patogen COVID-19. Oleh karena itu, antibodi Covid-19, baik yang terbentuk karena infeksi secara alami maupun vaksinasi tidak akan berguna dalam melindungi seseorang dari virus tersebut.

"Dengan demikian, NeoCoV membawa serta potensi gabungan tingkat kematian MERS-CoV yang tinggi (di mana rata-rata satu dari tiga orang yang terinfeksi meninggal) dan tingkat penularan yang tinggi dari virus corona SARS-CoV-2 saat ini," tulis para peneliti China, dikutip Sputniknews.

Sementara itu, para ahli dari Vector Russian State Research Center of Virology and Biotechnology, pada Kamis (27/1) mengatakan bahwa mereka sudah mendapatkan data tentang NeoCov tersebut dari peneliti China.

"Para ahli dari pusat penelitian Vector mengetahui data yang diperoleh peneliti Tiongkok mengenai virus corona NeoCov. Saat ini, ini bukan tentang kemunculan virus corona baru yang mampu menyebar secara aktif di antara manusia," katanya.

Mereka menambahkan bahwa tim China telah menguraikan potensi risiko yang memerlukan studi lebih lanjut.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia bermula dari Wuhan, China, pada Desember 2019. Belum ada bukti pasti bagaimana pandemi itu muncul. Saat ini, ada dua versi tentang masalah ini, yakni COVID-19 ditularkan ke manusia dari kelelawar melalui hewan perantara, atau wabah Covid-19 berasal dari adanya kebocoran laboratorium virus.

Bisa Picu Perang Dunia Ketiga, Mantan Perwira Tinggi AS Sarankan NATO Tak Jadikan Ukraina sebagai Anggota

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia