logo


Iran dan AS Bisa Gelar Pembicaraan Langsung soal Perjanjian Nuklir 2015

Menteri Luar Negeri Iran mengatakan bahwa pihaknya bisa menggelar pembicaraan secara langsung dengan pemerintah AS soal perjanjian nuklir 2015 untuk mencapai kesepakatan yang baik bagi kedua negara

25 Januari 2022 20:45 WIB

Proses negosiasi pemulihan perjanjian nuklir Iran di Wina
Proses negosiasi pemulihan perjanjian nuklir Iran di Wina Sputniknews

TEHERAN, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran pada Senin (24/1) mengatakan bahwa pihaknya dapat mengadakan pembicaraan langsung dengan AS mengenai kesepakatan nuklir 2015 jika dianggap perlu untuk mencapai kesepakatan yang “baik”.

“AS mengirimkan pesan yang menyerukan pembicaraan langsung dengan kami… Jika kami mencapai tahap dalam negosiasi di mana diperlukan dialog [langsung] dengan AS untuk mencapai kesepakatan yang baik, kami tidak akan mengabaikannya,” kata Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian, dikutip Al Arabiya.

Pembicaraan antara Iran dan sejumlah negara yang menandatangani perjanjian nuklir 2015 atau yang juga disebut sebagai JCPOA, diantaranya Rusia, Cina, Prancis, Jerman dan Inggris, saat ini sedang berlangsung di Wina, ibukota Austria.


Menlu Inggris Bilang Covid-19 Harus Diperlakukan seperti FLu, Begini Reaksi WHO

Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Iran Robert Malley, yang mengepalai tim delegasi AS di Wina, pada Minggu (23/1) mengatakan kepada Reuters bahwa Washington akan "menyambut baik" pembicaraan langsung dengan Teheran.

Seperti diketahui, di bawah perjanjian nuklir 2015, Iran wajib membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi internasional.

Akan tetapi, Presiden Donald Trump membuat keputusan secara sepihak pada 2018 dengan mengeluarkan Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut. Ia kemudian menerapkan kembali sanksi besar-besaran terhadap Teheran.

Sejak saat itu, Iran mulai melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan perjanjian dengan melakukan pengayaan uranium hingga 60 persen, atau mendekati kadar uranium yang bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir.

 

WHO Prediksi Akan Ada Varian Baru Covid-19 setelah Omicron

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia