logo


Kasus Infeksi Omicron Meningkat Tajam, Inggris Perketat Aturan Pembatasan

PM Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa pihaknya terpaksa memperketat aturan pembatasan sosial menyusul meningkatnya kasus infeksi yang disebabkan oleh varian baru Covid-19, Omicron.

9 Desember 2021 19:45 WIB

PM Inggris Boris Johnson
PM Inggris Boris Johnson istimewa

LONDON, JITUNEWS.COM - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Rabu (8/12) mengumumkan bahwa pihaknya kembali memberlakukan kebijakan pengetatan pembatasan menyusul peningkatan kasus infeksi varian Omicron, termasuk dengan memberlakukan kembali bekerja dari rumah (WFH) dan mewajibkan penggunaan sertifikat vaksin bagi semua orang saat menggunakan fasilitas umum.

Pada sebuah pengarahan, Johnson mengatakan bahwa tingkat kasus Omicron akan berlipat ganda setiap dua hingga tiga hari, dimana hal itu berpotensi memicu "peningkatan besar dalam kasus rawat inap."

"Kita harus rendah hati dalam menghadapi virus ini," katanya, dikutip The Global Times, seraya menambahkan bahwa "adalah hal yang proporsional dan bertanggung jawab untuk pindah ke Rencana B di Inggris."


AS Jatuhkan Sanksi Embargo Senjata terhadap Kamboja

Johnson mengatakan bahwa menjadi semakin jelas bahwa Omicron "berkembang jauh lebih cepat daripada varian Delta yang dominan sebelumnya dan kami belum dapat berasumsi bahwa Omicron (tidak menyebabkan) gejala yang lebih ringan dari varian sebelumnya."

"Kami hanya harus merespons hari ini dengan cara kami," katanya.

Sejak awal tahap pandemi, Inggris sudah melaporkan lebih dari 10 juta kasus infeksi dengan jumlah kematian mencapai 146.000. Catatan tersebut membuat Inggris menjadi salah satu negara dengan kasus infeksi Covid-19 tertinggi di Eropa.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid mengatakan bahwa sejauh ini sudah ada 568 kasus infeksi varian Omicron yang terdeteksi di Inggris, tetapi angka sebenarnya "mungkin mendekati 10.000."

Kanada Ikut Lakukan Boikot Diplomatik Olimpiade Beijing

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia