logo


TNI-Polri Akan Rekrut Santri, Syakur: Bisa Kikis Fitnah Radikalisme Terhadap Pesantren

Ini juga sekaligus menghilangkan fitnah yang secara berkala, terang-teragangan mengatakan pesantren itu dijadikan sarang radikal.

7 Desember 2021 18:33 WIB

Prajurit TNI AD menunjukan demo Yongmoodo dalam Peringatan HUT ke-70 TNI di Dermaga Indah Kiat, Merak, Cilegon, Banten, 5 Oktober 2015.
Prajurit TNI AD menunjukan demo Yongmoodo dalam Peringatan HUT ke-70 TNI di Dermaga Indah Kiat, Merak, Cilegon, Banten, 5 Oktober 2015. JITUNEWS/Latiko A.D

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Rencana Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurrachman merekrut santri menjadi prajurit TNI, patut didukung.

Selain TNI, Polri juga telah melakukan rekrutmen anggota Polri yang bersumber dari pesantren, hafiz Alquran, hingga siswa berprestasi dalam ilmu agama lainnya, sejak 2017 lalu.

Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid mengatakan, santri merupakan potensi besar bagi bangsa dan negara yang perlu dioptimalkan. Selain itu, rencana ini juga sebagai upaya mengikis fitah-fitnah miring yang ditujukan terhadap pesatren-pesantren.


Banyak PNS Pintar yang Terpapar Radikalisme, Fadli Zon: Harus Dievaluasi

"Ini juga sekaligus menghilangkan fitnah yang secara berkala, terang-teragangan mengatakan pesantren itu dijadikan sarang radikal. Ini kan fitnah yang keji. Padahal, sangat banyak pesantren-pesantren yang mengajarkan nasionalisme, mengajarkan cinta tanah air dan bangsa," kata Syakur dalam siaran pers yang diterima Jitunews.com, Selasa (7/12/2021).

Menurutnya selama ini masyarakat terkesan melupakan fungsi dan peran besar dari pesantren. Sejak zaman sebelum dan sesudah kemerdekaan, hingga saat ini, fungsi dan peran pesantren sangat besar dalam menjaga keutuhan anak bangsa.

Namu, Ia mengakui, propaganda kelompok pemuja khilafah dan wahabi cukup masif. Terlebih mereka, diduga banyak mendirikan pendidikan berbasis islam. Seharusnya, kurikukulum mereka ini yang perlu diawasi secara ketat.

Sebab, dari segelintir pesantren yang mereka dirikan itu, patut diduga merusak nama pesantren secara umum yang selama ini kontribusinya pada bangsa dan negara tidak perlu diragukan lagi. Karena, kurikulumnya mungkin sangat berbeda dari kurikulum pesantren-pesantren di Indonesia, umumnya.

Kendati demikian, Habib Syakur memastikan, sangat banyak pesantren-pesantren di Indonesia yang mengajarkan nasionalisme, cinta tanah air dan bangsa. Serta pensatren yang khusus mengkaji masalah ke-islamana di Indonesia.

Disisi lain, Habib Syakur menyarankan, semua lulusan satri sangat baik apabila diikutkan dalam pelatihan dan pendidikan oleh TNI-Polri. Karena, bila hanya menjadi personil TNI-Polri saja sangat disayangkan mereka memutuskan keilmuannya.

Jika seluruh tamatan pesantren dididik oleh TNI-Polri, nanti mereka akan dikembalikan ke basisnya, yaitu menjadi pendakwah yang mengayomi dan mampu memecahka sebuah masalah di tengah masyarakat baik secara sosiologis mapun antropologis.

"Jadi, setelah ikut pendidikan, mereka kembali lagi ke komunitasnya yaitu ke pesantren, ke masjid, sebagai pengayom umat. Saya rasa, kalau ini berjalan secara berkala, otomatis 80 % radikalisme dan intoleran tidak lagi berkembang," tukasnya.

Dewan Pakar PKPI: Pilkada Langsung Suburkan Radikalisme

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar